zonamerahnews – Fenomena ‘superflu’ atau virus influenza A (H3N2) subclade K yang belakangan menjadi sorotan, khususnya di Jawa Timur, akhirnya ditanggapi langsung oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Meskipun provinsi yang dipimpinnya mencatat angka kasus tertinggi secara nasional, Khofifah memastikan bahwa situasi masih terkendali dan masyarakat tidak perlu dilanda kepanikan berlebihan.
Merujuk data terkini dari Kementerian Kesehatan RI hingga penghujung Desember 2023, total 62 kasus ‘superflu’ telah teridentifikasi di delapan provinsi se-Indonesia. Dari jumlah tersebut, Jawa Timur mendominasi daftar dengan temuan kasus terbanyak, disusul oleh Kalimantan Selatan dan Jawa Barat. Ketiga wilayah ini menjadi fokus utama berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium yang mengonfirmasi keberadaan virus tersebut.

Menanggapi lonjakan kasus ini, Khofifah menegaskan bahwa hasil surveilans dan pemeriksaan laboratorium rujukan Kemenkes menunjukkan kondisi ‘superflu’ di Jawa Timur tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan yang signifikan dibandingkan varian influenza lainnya. "Kami ingin memastikan kepada seluruh masyarakat bahwa virus influenza A (H3N2) subclade K ini tidak berbahaya dan tidak mematikan. Di Jawa Timur, kami berhasil menjaga kondisi ini tetap terkendali dengan baik," ujar Khofifah pada Rabu (7/1).
Menurut Khofifah, kemunculan varian virus influenza adalah dinamika lumrah dalam ilmu virologi dan selalu dalam pengawasan ketat para ahli melalui pemantauan ilmiah berkelanjutan. Oleh karena itu, ia berpesan agar masyarakat tetap tenang dan tidak mudah termakan isu yang menimbulkan kekhawatiran.
Meskipun statusnya terkendali, upaya pengamatan dan surveilans terhadap virus ini terus diintensifkan. Salah satu langkah konkret adalah melalui site sentinel Influenza Like Illness (ILI) yang berlokasi di Puskesmas Dinoyo Kota Malang, serta Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di RSUD dr. Saiful Anwar Kota Malang. ILI didefinisikan sebagai kondisi demam di atas 38 derajat Celsius yang disertai batuk dan gejala timbul kurang dari 10 hari, sementara SARI merujuk pada sindrom pernapasan akut berat.
Hasil pemantauan dari kedua lokasi tersebut secara rutin dikirimkan ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya, yang kemudian diteruskan ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan (Biokes) Jakarta untuk analisis Whole Genome Sequencing. Berdasarkan pemeriksaan tersebut, tercatat 18 kasus positif di Jawa Timur dengan spesimen yang diambil antara September hingga November 2023. Mayoritas kasus ditemukan pada kelompok usia anak dan remaja, dengan proporsi gender yang seimbang.
"Seluruh temuan ini menjadi landasan kuat bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk terus memperkuat kewaspadaan dini, terutama melalui pemantauan intensif kasus ISPA di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan," tambah Khofifah.
Sebagai langkah antisipatif, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kesehatan telah melaksanakan berbagai upaya, mulai dari pemantauan rutin surveilans ILI-SARI, hingga koordinasi erat dengan Kementerian Kesehatan RI dan BBLKM Surabaya. "Ke depan, kami juga berencana menerbitkan Surat Edaran kewaspadaan ISPA sebagai bagian dari strategi pencegahan. Dengan langkah ini, kami berharap kewaspadaan masyarakat dapat diperkuat tanpa menimbulkan kepanikan yang tidak perlu," pungkas Khofifah.
Respons dari Jawa Barat hingga Bali
Fenomena ‘superflu’ juga mendapat perhatian di provinsi lain. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, R. Vini Adiani Dewi, menegaskan bahwa istilah ‘superflu’ yang ramai di masyarakat bukanlah terminologi medis resmi dan tidak memiliki kaitan dengan COVID-19. Penyebutan tersebut muncul semata-mata karena durasi gejala flu yang dirasakan sebagian pasien cenderung lebih lama dari flu biasa.
"Superflu itu sebenarnya bukan istilah dalam ilmu kedokteran atau medis. Itu adalah penamaan dari masyarakat karena gejala yang dirasakan lebih lama," jelas Vini kepada wartawan di Bandung, Rabu (7/1). Ia mengungkapkan, sejak Agustus hingga akhir tahun lalu, tercatat 10 kasus influenza tipe A di Jawa Barat. Jumlah ini bahkan menunjukkan tren penurunan sejak Oktober, dan semua pasien telah dinyatakan sembuh. Laporan kasus tersebut seluruhnya berasal dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, meskipun detail lokasi asal pasien tidak dapat dipastikan secara rinci.
Vini juga menekankan pentingnya penerapan protokol kesehatan, khususnya bagi individu yang sedang sakit. Sebagai langkah pencegahan tambahan, masyarakat dianjurkan untuk melakukan vaksinasi flu setahun sekali, terutama bagi mereka yang berencana bepergian ke luar negeri, menunaikan ibadah haji atau umrah, serta konsisten menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Sementara itu, di Bali, destinasi favorit wisatawan asing, mitigasi juga dilakukan oleh pihak Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. General Manager PT Angkasa Pura Indonesia di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Nugroho Jati, menyatakan bahwa sebagai langkah antisipasi terhadap potensi masuk dan penyebaran ‘superflu’, pihaknya bekerja sama dengan Balai Besar Karantina Kesehatan (BBKK) Denpasar. "Salah satu langkah yang kami lakukan adalah menyiapkan area khusus pemeriksaan kesehatan untuk penumpang," kata Nugroho dalam keterangan tertulisnya, Rabu ini. Ia menambahkan, BBKK Denpasar juga menyiagakan petugas untuk memantau penumpang menggunakan alat pendeteksi suhu tubuh atau thermal scanner di terminal kedatangan internasional.
Dengan berbagai upaya pencegahan dan pemantauan yang ketat dari berbagai pihak, diharapkan masyarakat dapat tetap tenang namun waspada, serta menerapkan gaya hidup sehat untuk menjaga diri dari ancaman virus influenza.

