zonamerahnews – Sebuah insiden tanah longsor mengejutkan warga Kabupaten Serang, Banten, setelah lereng Gunung Kaupas runtuh pada Selasa (6/1) siang kemarin. Peristiwa ini memicu evakuasi massal, memaksa lebih dari 500 jiwa meninggalkan rumah mereka demi keselamatan. Beruntungnya, hingga kini tidak ada laporan korban jiwa maupun kerugian harta benda yang signifikan akibat bencana alam ini.
Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, lokasi longsor berjarak sekitar satu kilometer dari permukiman warga. "Penyebabnya murni karena pergerakan alam," jelas Lutfi pada Rabu (7/1), seraya menambahkan bahwa langkah antisipasi telah diambil secara sigap. BPBD bersama pemerintah daerah segera mengungsikan penduduk yang bermukim di kaki lereng, terutama saat malam hari, untuk meminimalkan risiko longsor susulan.

Total 504 warga dari Kampung Cibodas terdampak. Sebagian besar memilih berlindung di sekolah dasar terdekat yang telah disiapkan sebagai posko pengungsian, sementara sisanya memilih menumpang di rumah kerabat. "Tidak semua berada di lokasi pengungsian yang kami siapkan, ada juga yang memilih ke tempat saudara," imbuh Lutfi. Status pengungsian ini bersifat sementara, dan akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi lereng di lapangan.
Keseriusan penanganan bencana ini juga terlihat dari kunjungan Wakil Bupati Serang, Muhammad Najib Hamas, ke lokasi pengungsian pada Selasa malam. Ia memastikan seluruh kebutuhan dasar warga terdampak di Kampung Cibodas, Desa Kadubeureum, Kecamatan Padarincang, terpenuhi. "Saya hadir malam ini setelah menyelesaikan beberapa agenda kedinasan, untuk memastikan kebutuhan warga segera diatasi," ujar Najib.
Tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD, Muspika, pemerintah desa, dan relawan bergerak cepat dalam evakuasi dan penanganan darurat. Dapur umum telah didirikan untuk menyediakan makanan siap saji, dan perhatian khusus diberikan pada pemenuhan kebutuhan mendesak bagi kelompok rentan, seperti penanganan warga dengan penyakit khusus, asupan gizi bagi bayi dan anak-anak, serta kebutuhan esensial lainnya.
Data di lapangan menunjukkan 274 warga mengungsi sementara di Gedung Madrasah Roudhotunnajah, yang berjarak sekitar 500 meter dari titik longsor. Di antara mereka, terdapat 31 lansia, 21 balita, dan 4 ibu hamil yang menjadi prioritas penanganan. Sisanya adalah 218 pengungsi dari kelompok dewasa dan anak-anak. Setelah meninjau pengungsi, Wabup Serang juga memeriksa langsung titik terdekat longsoran, menginstruksikan tim gabungan untuk tetap bersiaga memantau situasi.
Insiden ini juga mengingatkan akan pentingnya mitigasi di kawasan rawan longsor. BPBD Banten secara aktif melakukan pemantauan di 21 kecamatan yang masuk kategori rawan longsor, tersebar di Kabupaten Serang, Pandeglang, dan Lebak. Contohnya di Serang meliputi Anyer dan Padarincang; di Pandeglang ada Carita dan Mandalawangi; sementara di Lebak mencakup Lebak Gedong dan Bayah.
Lutfi menegaskan bahwa BPBD akan terus berkoordinasi erat dengan pemerintah kabupaten dan aparat setempat guna memastikan keselamatan warga serta kesiapsiagaan menghadapi potensi pergerakan tanah lanjutan. Longsor di lereng Gunung Kaupas pada Selasa (6/1) sekitar pukul 10.40 WIB ini sempat terekam warga dan videonya beredar luas di berbagai platform media sosial, menjadi pengingat akan kekuatan alam yang tak terduga.

