zonamerahnews.com – Gelombang protes mahasiswa kembali mengguncang Kota Bandung pada Kamis sore. Ratusan pelajar dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Barat membanjiri depan Gedung DPRD Jabar di Jalan Diponegoro, menyuarakan kegelisahan mendalam atas berbagai persoalan yang kini membebani masyarakat Indonesia.
Aksi damai namun penuh semangat ini diwarnai bentangan spanduk dan poster berisi kritik tajam terhadap kebijakan pemerintahan terkini. Sorotan utama mereka meliputi isu-isu ekonomi krusial seperti lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM), program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga kondisi nilai tukar Rupiah yang terus melemah. Tak hanya itu, pengesahan Undang-Undang Polri yang mengatur perpanjangan usia pensiun dan penempatan di institusi lain juga tak luput dari kecaman.

Ainul Mardhyah, Koordinator Front Mahasiswa Nasional (FMN) Bandung Raya, menegaskan desakan untuk menghentikan total program MBG. Menurutnya, inisiatif tersebut merupakan pemborosan anggaran negara yang signifikan, bahkan disebut telah menyebabkan insiden keracunan pada sejumlah anak dan warga. Selain itu, mahasiswa juga menuntut penurunan harga BBM secara drastis, mengingat kenaikan harga kebutuhan pokok yang semakin mencekik dan hak masyarakat atas akses transportasi yang terjangkau.
Keresahan ini muncul setelah pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi sehari sebelumnya, Rabu (10/6). Kini, Pertamax (RON 92) mencapai Rp16.250 per liter, Pertamax Green 95 Rp17.000, Pertamax Turbo Rp20.750, Dexlite Rp23.000, dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter. Sementara itu, harga Pertalite dan Biosolar sebagai BBM subsidi tetap stabil.
Tak berhenti pada isu ekonomi, massa aksi juga mendesak pemerintah untuk serius menuntaskan janji reforma agraria sejati dan mendorong industrialisasi nasional sebagai solusi fundamental atas berbagai tekanan yang dirasakan rakyat. Khallid Syhaeful, Ketua BEM UPI, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan manifestasi dari keresahan kolektif mahasiswa terhadap berbagai persoalan serius yang melanda bangsa. Ia menekankan bahwa tuntutan ini bukan sekadar suara segelintir kelompok, melainkan representasi dari kesadaran luas akan kegagalan pemerintah dalam mengelola negara secara optimal.
Tuntutan yang disuarakan mahasiswa, lanjut Khallid, merupakan hasil konsolidasi intensif antarberbagai kampus dan elemen masyarakat. Dari beragam masukan yang terkumpul, isu-isu krusial tersebut kemudian mengerucut pada tiga sektor utama yang mendesak untuk segera ditangani. Meskipun kritik yang dilontarkan sangat keras, seluruh rangkaian aksi berlangsung tertib dan damai di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian.

