zonamerahnews.com – Tiga dekade setelah insiden 27 Juli 1996 yang dikenal sebagai Kudatuli, gaungnya kembali terasa kuat di kantor pusat PDIP Jakarta. Dalam peringatan bersejarah ini, politikus senior PDIP sekaligus mantan Gubernur Lemhannas, Andi Widjajanto, secara tegas menggarisbawahi satu amanat krusial yang tak lekang oleh waktu: urgensi profesionalisme tentara.
Acara peringatan yang berlangsung pada Senin 27 Juli tersebut turut dihadiri oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri ditemani putranya yang juga Ketua DPP PDIP Muhammad Prananda Prabowo. Andi Widjajanto dalam pidatonya menegaskan bahwa esensi dari peringatan Kudatuli ini hanyalah satu memastikan korps militer selalu berpegang teguh pada tugas utamanya.

"Hanya satu pesan yang harus kita ambil dari Kudatuli jangan sampai tentara keluar dari jalur profesionalismenya lagi," tegas Andi. Ia menekankan bahwa prajurit TNI tidak seharusnya terlibat dalam ranah politik yang bukan merupakan kompetensi mereka. Tugas utama militer adalah menjaga kedaulatan serta pertahanan negara secara murni dan profesional.
Andi menambahkan bahwa setiap rupiah pajak yang dibayarkan masyarakat untuk menggaji para perwira dan prajurit TNI harus dimanfaatkan untuk memastikan mereka bertugas sesuai koridor yang diatur konstitusi dan undang-undang. "Bukan masuk ke pemerintahan sipil bukan menjadi direktur jenderal bukan mengurusi jagung bukan pula membuka sawah," kata Andi dengan lugas.
Menurut pakar kajian militer dan pertahanan ini, kemampuan sejati seorang tentara adalah keahlian di bidang tempur. "Tentara harus jago terjun payung menyetir tank mengoperasikan kapal selam," sambungnya.
Ia kemudian mengutip pesan dari Panglima Besar pertama Tentara Indonesia Jenderal Sudirman pada tahun 1950 yang mengingatkan agar tentara Indonesia tidak terpecah-pecah dan tidak terseret ke dalam kepentingan politik. Amanat serupa juga diulang oleh Proklamator dan Presiden pertama RI Sukarno saat peringatan Hari Kemerdekaan tahun 1953.
"Kata-katanya nyaris sama tidak terkotak-kotak tidak terpilah-pilah tidak boleh membawa kepentingan politik tertentu," ujar Andi.
Andi Widjajanto menyimpulkan bahwa salah satu akar masalah Indonesia sejak tahun 1966 hingga keruntuhan Reformasi 1998 adalah ketika tentara kehilangan jati dirinya dan terlalu jauh masuk ke ranah politik. "Itu yang harus kita cegah saat ini," pungkasnya mengingatkan pentingnya menjaga profesionalisme militer demi masa depan bangsa.

