zonamerahnews.com – Sebuah insiden mengejutkan terjadi di layar kaca nasional. Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur KH Ma’ruf Khozin menjadi sasaran makian ‘goblok’ dari seorang pengusaha sound horeg. Namun respons sang ulama justru jauh dari dugaan, memancing perhatian publik luas.
Ma’ruf Khozin, yang ditemui Kamis (10/9), menjelaskan bahwa selama ini ia berinteraksi dengan dua tokoh di balik fenomena sound horeg. Pertama adalah David Stefan, pemilik Blizzard Audio, yang disebutnya sangat kooperatif. David bahkan beberapa kali datang ke kantor MUI Jatim untuk berdiskusi langsung mengenai fatwa dan batasan penggunaan sound horeg.

Berbeda dengan David, Ma’ruf mengungkapkan bahwa Setyo Budi Sularso, pemilik Aeromax Sound System, baru pertama kali ia temui di studio televisi. Tanpa basa-basi, Budi langsung melontarkan kata-kata merendahkan tersebut. "Pak Budi ini tidak pernah berjumpa. Langsung ketemunya di studio. Belum apa-apa langsung ngomong ‘goblok’ ya. Kalau kita tidak ada masalah," ujar Ma’ruf, menirukan kejadian tersebut.
Ma’ruf mengaku sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Budi. Ia mengibaratkan situasinya seperti seorang dokter jantung yang menghadapi pasien perokok. "Pasti dokter itu melarang. Nah, karena ini mengganggu kenyamanan perokok, dia akan mencemooh, ‘Wong barang enak kok dilarang’. Kan, sering kita dengar," jelasnya.
Lebih lanjut, Ma’ruf juga menyinggung konsekuensi yang harus dihadapi para ulama saat menyerukan kebaikan. Ia mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW pun pernah mengalami perlakuan yang jauh lebih buruk. "Kalau hari ini kita dibilangin goblok, kalau kita mau meneladani Nabi, Nabi itu bukan cuma dibilang goblok. Bahkan Nabi dibilang tukang sihir, tukang santet bahasa sekarang, terus dibilangin macam-macam," tuturnya. Menurutnya, ini adalah risiko bagi mereka yang mengajak orang lain menuju kebaikan, terutama jika ajakan itu dianggap mengganggu kenyamanan pihak tertentu. "Jadi kita dituduh goblok, ya sambil lalu saja lah," imbuhnya santai.
Ma’ruf kemudian menegaskan bahwa para kiai yang tergabung dalam Komisi Fatwa MUI telah melalui saringan ketat. Mereka memiliki latar belakang pendidikan dan jenjang akademik yang mumpuni, bahkan ada yang bergelar S3 hingga guru besar. "Jadi kalau dimaksud goblok begitu ya gugur dengan sendirinya. Justru kalau kita marah, kita tersinggung, berarti kita goblok. Jadi justru kita tidak marah itu menunjukkan kita tidak tersinggung," tegasnya.
Ia menduga, pernyataan kasar tersebut muncul karena Budi belum banyak mengetahui seluk-beluk dan fungsi MUI. Ma’ruf berpendapat, hal itu tidak perlu dibesar-besarkan. "Ya, jadi ya mungkin beliau karena belum tahu banyak lah tentang MUI," pungkasnya.

