Geger Garut! Pimpinan Ponpes Diringkus Usai Dugaan Pencabulan
zonamerahnews – Seorang pimpinan pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Garut, berinisial AN (45), telah diamankan oleh pihak kepolisian menyusul dugaan kuat pencabulan terhadap salah seorang santriwati. Penangkapan ini dilakukan setelah insiden tersebut mencuat ke publik dan memicu keresahan warga.

Insiden dugaan pencabulan ini mulai terkuak ke publik setelah beredarnya sebuah video yang menunjukkan rumah AN digeruduk warga pada Sabtu (16/5) malam. Rekaman tersebut menampilkan momen dramatis ketika AN digiring petugas kepolisian di tengah kerumunan warga yang meluapkan emosinya dengan teriakan "cabul".
Peristiwa dugaan pelecehan seksual ini dilaporkan menimpa seorang santriwati di pondok pesantren yang berlokasi di Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut. Kasat Reskrim Polres Garut, AKP Joko Prihatin, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan resmi terkait kasus tersebut dari pihak keluarga korban. Laporan masuk ke Polres Garut pada Sabtu kemarin.
"Laporan masuk sekitar pukul 1 siang," ungkap Joko, sebagaimana dikutip oleh zonamerahnews.com. Kabar mengenai dugaan tindakan amoral yang dilakukan oknum pimpinan ponpes ini menyebar dengan cepat di kalangan masyarakat sekitar lingkungan pesantren di Samarang, Garut. Hal ini menimbulkan keresahan dan ketegangan, bahkan sempat terjadi penggerudukan massa yang geram terhadap rumah pimpinan ponpes.
"Berkat kesigapan jajaran Polsek Samarang, aksi main hakim sendiri terhadap terduga pelaku dapat dicegah. Karena situasi yang demikian, yang bersangkutan langsung diamankan dan dibawa ke Polres Garut," jelas Joko.
Joko menambahkan, saat ini, kasus tersebut tengah didalami secara serius oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Garut. Pimpinan pesantren tersebut sedang menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik Unit PPA. "Kasusnya sedang kami dalami. Kami melibatkan pihak-pihak terkait juga untuk mendalami keterangan korban," pungkas Joko.
Sementara itu, Aditya Kosasih, kuasa hukum korban, menuturkan bahwa kasus ini terungkap setelah korban memberanikan diri bercerita kepada orang tua salah satu rekannya, sesama santriwati di ponpes tersebut. Informasi itu kemudian disampaikan kepada orang tua korban, hingga akhirnya orang tua korban didampingi Adit membuat laporan resmi ke polisi.
"Kepada orang tua temannya, awalnya korban mengaku diusir. Namun, setelah didesak dan diajak berbicara lebih mendalam, korban akhirnya memberanikan diri menceritakan dugaan perlakuan tidak senonoh yang dialaminya," ungkap Aditya, menjelaskan kronologi terungkapnya kasus ini. Pihak kepolisian kini terus berupaya mengungkap fakta-fakta di balik dugaan pencabulan yang mengguncang dunia pendidikan agama ini.

