zonamerahnews – Jakarta – Sebuah kisah heroik dan penuh keajaiban menyelimuti tragedi kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Endang Kuswati (40), seorang penumpang yang terjebak semalaman di dalam gerbong yang ringsek, berhasil bertahan hidup dan dievakuasi berkat kegigihan sang ayah, Mahfud (74), yang tak kenal lelah mencari putrinya. Endang menjadi korban terakhir yang berhasil diselamatkan dari himpitan maut tersebut.
Endang, yang bekerja di kawasan Pasar Baru, ditemukan dalam kondisi terjepit di antara reruntuhan gerbong dan tubuh korban lain yang sudah tak bernyawa. Posisi sulitnya membuat proses evakuasi memakan waktu berjam-jam. Ia baru berhasil dikeluarkan pada Selasa (28/4) pagi, setelah waktu Subuh, sekitar delapan jam lebih setelah insiden nahas itu terjadi.

Kabar nahas itu baru sampai ke telinga keluarga Mahfud pada Senin malam. "Saya terima info itu sekitar jam 10 malam," kenang Mahfud saat ditemui di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi. Setibanya di lokasi kejadian, akses untuk masuk masih tertutup rapat. Baru sekitar pukul 03.00 dini hari, Mahfud dan anak-anaknya diizinkan mendekat ke area gerbong yang sudah ringsek parah.
Di tengah puing-puing, keluarga Mahfud akhirnya mengenali sepotong pakaian yang tak asing, yang sebelumnya sempat terekam kamera wartawan. "Ini bajunya benar, ini anak saya," ujar Mahfud, mengingat momen penuh haru dan kecemasan itu. Proses evakuasi Endang menjadi yang paling rumit dan memakan waktu terlama, baru tuntas pada Selasa pagi. Mahfud menjelaskan, putrinya ditemukan dalam posisi terjepit, miring, bahkan diapit oleh jasad-jasad lain. "Sekitar jam 6 pagi ya baru dievakuasi terakhir. Anak saya itu dievakuasi terakhir, yaitu dalam keadaan kejepit. Dia tidur sama mayat, di atasnya juga mayat. Dia dalam keadaan miring," ungkapnya.
Usai berhasil dievakuasi, Endang segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis intensif. Mahfud memastikan putrinya kini sudah dalam kondisi sadar, meskipun menderita sejumlah luka fisik yang cukup serius. "Sudah sadar tapi kakinya bengkak, tangan juga bengkak. Ini lagi di-rontgen," jelas Mahfud. Komunikasi verbalnya belum pulih sepenuhnya, hanya mampu merespons dengan anggukan. Namun, bagi Mahfud, kelegaan tak terkira melihat putrinya masih hidup. "Ya alhamdulillah bisa berkomunikasi, kita senang," tambahnya dengan nada syukur.
Insiden tragis ini bermula ketika rangkaian KRL relasi Bekasi-Cikarang mengalami temperan dengan mobil di perlintasan. Tak lama berselang, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) rute Jakarta-Surabaya yang melaju dengan kecepatan 110 km/jam, tak sempat mengerem sempurna dan menabrak KRL tersebut, tepatnya di gerbong khusus wanita. Data terakhir yang dihimpun zonamerahnews.com menyebutkan, sedikitnya 15 penumpang dilaporkan meninggal dunia dalam kecelakaan nahas ini. Kisah Endang dan kegigihan ayahnya menjadi secercah harapan di tengah duka mendalam.
