zonamerahnews – Jakarta – Dunia aktivisme kembali diguncang aksi kekerasan yang memprihatinkan. Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, pada Kamis malam (12/3). Insiden brutal ini sontak memicu gelombang kemarahan dan kecaman keras dari sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang serentak mendesak aparat kepolisian untuk segera mengusut tuntas kasus ini, menangkap pelaku, dan mengungkap motif di baliknya.
Andrie Yunus dilaporkan menderita luka bakar serius hingga 24 persen di beberapa bagian tubuhnya, termasuk tangan kanan dan kiri, wajah, dada, serta area mata. Peristiwa tragis ini terjadi usai Andrie menghadiri sesi podcast bertajuk "Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia" yang diselenggarakan di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Wakil Ketua Komisi III DPR dari Fraksi PDIP, Andreas Hugo Pareira, dengan tegas menyatakan bahwa serangan terhadap Andrie Yunus merupakan upaya nyata untuk membungkam suara-suara kritis masyarakat, khususnya para pembela hak asasi manusia. "Aparat Kepolisian harus segera melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta motif di balik serangan brutal yang sangat tidak manusiawi ini," ujar Andreas, Jumat (13/3), sebagaimana dikutip zonamerahnews.com.
Senada, Wakil Ketua Komisi III DPR dari Fraksi NasDem, Ahmad Sahroni, menilai insiden semacam ini sangat tidak kondusif bagi iklim demokrasi di Indonesia, apalagi jika motif penyiraman tersebut terbukti berkaitan dengan aktivitas korban sebagai seorang aktivis. "Maka saya minta pihak kepolisian segera mengusut tuntas siapa pelaku dan dalang di balik penyerangan ini, ungkap motifnya secara terang," tegas Sahroni.
Anggota Komisi III DPR dari Fraksi NasDem lainnya, Rudianto Lallo, turut menyampaikan rasa keprihatinannya yang mendalam. Lallo mendesak agar kasus ini diungkap secara transparan dan pelaku segera ditangkap. Menurutnya, tindakan kekerasan dan upaya mencederai fisik melalui penyiraman air keras adalah perilaku kriminal serius yang harus dimintai pertanggungjawaban penuh. "Peristiwa ini harus dibongkar/diungkap siapa pelaku dan apa yang menjadi motif dari peristiwa penyerangan air keras tersebut," katanya.
Dari Fraksi PKB, anggota Komisi III DPR Abdullah, juga mengutuk keras tindakan penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. Ia menegaskan bahwa tindakan semacam itu adalah kejahatan serius yang tidak boleh dibiarkan dalam negara hukum. Pria yang akrab disapa Abduh ini menambahkan, serangan terhadap Andrie Yunus tidak hanya mengancam keselamatan pribadi korban, tetapi juga dapat dimaknai sebagai teror terhadap ruang demokrasi dan kebebasan sipil. "Saya mendesak Kepolisian Republik Indonesia segera mengusut tuntas kasus ini secara cepat, profesional, dan transparan serta menangkap pelaku beserta motif di balik serangan tersebut," pungkasnya.
Kronologi Mencekam
Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, merinci kronologi kejadian yang terekam CCTV. Peristiwa itu berlangsung sekitar pukul 23.30 WIB. Dalam rekaman, terlihat dua pria berboncengan satu motor memutar balik dan berjalan perlahan mendekati Andrie yang saat itu sedang melintas menggunakan sepeda motornya.
Pria yang dibonceng, yang tidak mengenakan helm, diduga kuat menyiramkan air keras ke arah Andrie. Seketika, korban langsung menghentikan laju motornya, menjatuhkannya, dan berteriak kesakitan. Teriakan tersebut memicu perhatian warga sekitar yang kemudian mendekat untuk memberikan pertolongan.
Dimas menjelaskan ciri-ciri terduga pelaku. Pelaku pertama, yang bertindak sebagai pengemudi, mengenakan kaos kombinasi putih-biru, celana gelap yang diduga jeans, dan helm berwarna hitam. Sementara pelaku kedua, yang merupakan penumpang dan diduga sebagai penyiram, menggunakan penutup wajah atau masker jenis ‘buff’ berwarna hitam yang menutupi sebagian wajahnya, kaos berwarna biru tua, serta celana panjang berwarna biru yang dilipat menjadi pendek dan diduga berbahan jeans.
"Salah satu pelaku kemudian menyiramkan air keras ke arah korban hingga mengenai sebagian tubuh korban. Akibat serangan tersebut, korban langsung berteriak kesakitan hingga menjatuhkan motornya," jelas Dimas, menegaskan urgensi pengungkapan kasus ini demi keadilan dan perlindungan aktivis di Indonesia.

