zonamerahnews – Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Afriansyah Noor, baru-baru ini mengonfirmasi bahwa jalinan silaturahmi antara Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) tetap kokoh dan harmonis. Penegasan ini disampaikan Afriansyah di tengah mencuatnya polemik dugaan ijazah palsu yang sempat menyeret nama Partai Demokrat.
Keterangan tersebut diungkapkan Afriansyah setelah ia melakukan pertemuan dengan Presiden Jokowi di kediaman pribadinya di Sumber, Solo, pada Minggu (8/2) lalu. Ia memastikan bahwa dalam pertemuan santai tersebut, isu mengenai ijazah yang sempat menjadi perdebatan publik sama sekali tidak dibahas.

"Oh, hubungan SBY-Jokowi sangat baik. Justru tadi saya sempat bercerita tentang museum, dan terpikir, ‘Wah, kapan-kapan kita bisa berkunjung ke Museum SBY-Ani di Pacitan’," ujar Afriansyah, mengutip laporan dari zonamerahnews.com.
Afriansyah menambahkan, pertemuannya dengan Jokowi berlangsung dalam suasana akrab dan penuh kehangatan, diwarnai dengan cerita-cerita nostalgia. Ia menyatakan keyakinan penuhnya terhadap legalitas seluruh proses politik yang telah dijalani Jokowi selama ini, sekaligus menegaskan bahwa persoalan ijazah tidak menjadi topik pembicaraan.
"Mengenai isu ijazah, saya sama sekali tidak menyinggungnya, dan Pak Jokowi pun tidak. Beliau juga sudah memahami bahwa Partai Demokrat sangat tidak mungkin menyebarkan fitnah atau melontarkan tuduhan tak berdasar," jelasnya.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan ini menekankan bahwa Partai Demokrat, di bawah kepemimpinan SBY dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), selalu memegang teguh etika berpolitik. Menurut Afriansyah, karakteristik Partai Demokrat bukanlah partai yang gemar menyerang lawan politik dengan tuduhan tanpa bukti.
"Itu bukan watak Pak SBY, bukan watak Mas AHY, dan juga bukan jati diri Partai Demokrat. Kami adalah partai yang berlandaskan kaum intelektual dan agamis," tegas Afriansyah.
Lebih lanjut, Afriansyah menjelaskan bahwa kunjungannya ke kediaman Jokowi merupakan silaturahmi personal yang merefleksikan praktik politik yang dewasa dan sehat. Ia ingin menunjukkan bahwa perbedaan pandangan politik tidak semestinya mengikis jalinan persahabatan dan komunikasi antar tokoh bangsa.
"Kami betul-betul menjunjung tinggi cara berpolitik yang santun, mengedepankan nilai-nilai nasionalis religius," ujarnya.
Dalam pertemuan itu, Presiden Jokowi juga menyampaikan salam hangat untuk SBY dan AHY. Afriansyah menilai pesan tersebut sebagai isyarat harapan agar seluruh komponen bangsa terus bahu-membahu dan bersinergi dalam membangun Indonesia.
"Jadi, insyaallah tadi Pak Jokowi malah menitipkan salam untuk Pak SBY dan Mas AHY," katanya.
Afriansyah juga mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut dihiasi dengan cerita nostalgia pribadi. Ia menceritakan bahwa Presiden Jokowi pernah menjadi saksi pernikahan anak-anaknya. "Pertama soal nostalgia, zaman beliau mencalonkan diri jadi presiden. Kebetulan putra-putri saya itu dinikahkan oleh beliau sebagai saksi. Putri pertama saya tahun 2019, putra kedua saya tahun 2024," tuturnya.
Ia mengaku kedatangannya ke rumah Jokowi dilakukan secara murni spontan saat sedang berkunjung ke Solo. Oleh karena itu, ia tidak sempat melaporkan rencana tersebut kepada SBY. "Pak SBY kebetulan saya tidak melapor. Ini spontanitas saja. Tadi malam saya satu bangku sama Pak SBY," ujarnya.
Meskipun demikian, Afriansyah kembali menegaskan bahwa Presiden Jokowi menitipkan amanat persatuan dan kesatuan kepada SBY dan AHY, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 280 juta jiwa. "Harapannya, dengan jumlah penduduk yang besar ini, kita harus bersama-sama membangun bangsa," pungkas Afriansyah.

