zonamerahnews – Jakarta – Sebuah kasus mengejutkan terungkap di Kalimantan Barat, di mana seorang siswa SMP Negeri Sungai Raya kedapatan melempar bom molotov. Detasemen Khusus (Densus 88) Antiteror Polri menyatakan bahwa aksi nekat siswa tersebut bukan tanpa latar belakang, melainkan terinspirasi dari serangkaian tindakan kekerasan ekstrem yang terjadi di berbagai belahan dunia, demikian laporan zonamerahnews.com.
Kombes Mayndra Eka Wardhana, Juru Bicara Densus 88, mengungkapkan bahwa indikasi kuat ini ditemukan dari tulisan nama-nama pelaku kekerasan ekstrem yang tertera jelas pada tas milik siswa. "Nama-nama yang tertulis merupakan figur-figur yang terlibat dalam penembakan massal dan sering dijadikan rujukan dalam komunitas ekstrem daring," jelas Mayndra dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (4/2).

Mayndra mencontohkan beberapa nama yang menjadi inspirasi siswa tersebut. Di antaranya adalah Stephen Paddock, pelaku penembakan massal di Las Vegas pada tahun 2017, yang dikenal sebagai salah satu insiden paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat. Ada pula Adam Peter Lanza, pelaku penembakan di Sandy Hook Elementary School pada 2012 yang merenggut nyawa anak-anak usia sekolah dasar dan guru. Aksi Lanza ini, menurut Mayndra, sering dijadikan simbol kekerasan nihilistik ekstrem.
Selain itu, terdapat nama Seung-Hui Cho, pelaku penembakan Virginia Tech 2007, sebuah kasus yang banyak dianalisis dalam studi tentang ‘lone wolf’ dan alienasi sosial. Salvador Ramos, pelaku penembakan di Uvalde, Texas, pada 2022 yang menyasar sekolah dasar, juga masuk dalam daftar. Tak ketinggalan, Luca Traini, pelaku penembakan bermotif rasial di Macerata, Italia, pada 2018 yang berafiliasi dengan ideologi ekstrem kanan. Terakhir, siswa tersebut juga menuliskan nama Tarrant, merujuk pada pelaku serangan teror di Christchurch, Selandia Baru, pada 2019.
Tak hanya nama-nama pelaku, Mayndra menambahkan, siswa tersebut juga menuliskan singkatan "TCC" yang merujuk pada True Crime Community atau komunitas kekerasan ekstrem. Selain itu, terdapat pula tagar "#ZERO DAY" yang populer dalam subkultur kekerasan ekstrem, mengacu pada hari eksekusi serangan, serta terkait dengan narasi film "Zero Day" yang mengisahkan penembakan di sekolah.
Sebelumnya, Mayndra telah menyatakan bahwa siswa SMP Negeri 3 Sungai Raya ini terpapar ideologi kekerasan ekstrem dan merupakan bagian dari komunitas True Crime Community (TCC). "Yang bersangkutan memiliki ketertarikan pada konten-konten kekerasan dan juga aktif dalam komunitas True Crime Community," ungkapnya.
Penyelidikan lebih lanjut oleh Densus 88 mengungkap adanya latar belakang personal yang kompleks. Pelaku diketahui merupakan korban perundungan di sekolahnya. Akibatnya, ia menyimpan niat dan keinginan untuk membalas dendam kepada teman-temannya yang kerap merundungnya. Mayndra juga mengindikasikan bahwa pelaku menghadapi masalah keluarga. "Niat balas dendam ini kemudian dilampiaskan melalui aksi kekerasan di lingkungan sekolahnya," pungkas Mayndra.

