zonamerahnews.com – Dunia kedokteran Indonesia kembali berduka menyusul serangkaian kasus kematian dokter peserta program magang. Ikatan Dokter Indonesia IDI kini mendesak pemerintah untuk segera membatasi jam kerja para dokter muda ini maksimal 40 jam per pekan demi mencegah tragedi serupa terulang di masa mendatang.
Wakil Ketua Umum Pengurus Besar IDI Kolonel Laut Purn Wiweka menjelaskan bahwa penyebab kematian dokter magang bukan akibat tunggal. Menurutnya beberapa kasus turut dipengaruhi oleh kondisi kesehatan awal peserta sebelum mereka memulai program intensif tersebut. IDI telah mengajukan sebelas poin evaluasi komprehensif kepada Kementerian Kesehatan sebagai respons atas kejadian memilukan ini.

Salah satu usulan krusial adalah penetapan batas maksimal 40 jam kerja dalam seminggu bagi dokter magang. Wiweka menegaskan pembatasan ini sejalan dengan hak asasi manusia dan standar ketenagakerjaan yang berlaku. Selain itu IDI juga mendesak agar hak-hak dasar para dokter magang layaknya pekerja profesional dipenuhi sepenuhnya. Ini mencakup hak cuti sakit cuti hamil dan cuti melahirkan yang selama ini kerap terabaikan.
IDI juga sempat mengusulkan pemangkasan durasi program magang dari satu tahun menjadi enam bulan. Namun usulan ini belum mendapat restu dari pemerintah meskipun poin-poin evaluasi lainnya telah diterima. Tragisnya meski evaluasi sudah mulai diterapkan kasus kematian dokter magang masih saja terjadi. Wiweka menyebut dua insiden terbaru menimpa dokter magang di Lampung dan Kalibata Jakarta Selatan.
Meski demikian Wiweka menegaskan bahwa program internship tetap menjadi kewajiban bagi setiap lulusan kedokteran sesuai amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Oleh karena itu IDI mengusulkan mekanisme pengawasan yang lebih ketat di lapangan. Organisasi profesi ini ingin dilibatkan secara aktif melalui cabang-cabang IDI di daerah untuk melakukan monitoring dan evaluasi. Tujuannya agar setiap permasalahan yang muncul dapat segera diidentifikasi dan dimitigasi.
Langkah preventif lain yang didorong IDI adalah pemeriksaan kesehatan menyeluruh atau MCU yang lebih komprehensif bagi calon peserta magang. Pemeriksaan ini diharapkan mencakup uji darah skrining narkoba deteksi penyakit menular seksual serta identifikasi penyakit kronis lainnya. Dengan demikian calon dokter magang dipastikan benar-benar sehat dan siap menghadapi lingkungan serta suasana kerja yang baru dan menantang.
Sebelumnya publik dikejutkan dengan insiden meninggalnya seorang dokter magang berinisial dr SZM. Ia meregang nyawa setelah terjatuh dari lantai 18 sebuah apartemen di kawasan Kalibata Pancoran Jakarta Selatan. Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Minggu siang setelah korban menolak ajakan ibunya untuk pergi ke mal. Korban kemudian mengunci pintu dari dalam dan melakukan tindakan fatal tersebut. Jenazah dr SZM dievakuasi ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati Jakarta Timur.
Kasus-kasus ini menjadi pengingat penting akan urgensi perlindungan dan kesejahteraan para dokter muda yang menjadi garda terdepan kesehatan bangsa. IDI berharap pemerintah segera mengambil tindakan konkret untuk memastikan tidak ada lagi nyawa yang melayang sia-sia.

