zonamerahnews.com – Pembangunan infrastruktur transportasi modern terus digenjot demi menunjang mobilitas warga Ibu Kota dan sekitarnya. Dua pilar utama yang kini menjadi sorotan adalah Light Rail Transit (LRT) Jakarta dan LRT Jabodebek. Keduanya dirancang untuk mengurangi kemacetan dan menawarkan solusi perjalanan yang ramah lingkungan. Belum lama ini, pada 16 September 2026, Presiden Prabowo Subianto meresmikan LRT Jakarta Jalur Kelapa Gading-Manggarai, sebuah langkah maju yang diharapkan mampu mengangkut puluhan ribu penumpang setiap harinya.
Meskipun sama-sama berlabel LRT dan beroperasi di wilayah metropolitan Jakarta, kedua moda transportasi ini menyimpan sejumlah perbedaan fundamental. Dari teknologi yang digunakan, cakupan wilayah, hingga struktur tarif, semuanya memiliki karakteristik unik yang membedakannya. zonamerahnews.com telah merangkum detail perbandingan kedua sistem kereta ringan ini agar Anda tidak salah pilih.

Teknologi dan Pengelola Berbeda Jauh
LRT Jakarta, yang mulai dibangun sejak 22 Juni 2016 bertepatan dengan HUT Kota Jakarta, didedikasikan sepenuhnya untuk mobilitas warga Ibu Kota. Kereta-keretanya diproduksi oleh Hyundai Rotem dari Korea Selatan dan mengusung teknologi canggih berupa articulated bogie. Inovasi ini memungkinkan rangkaian kereta melaju aman bahkan saat melewati tikungan tajam, sebuah terobosan yang pertama kali diterapkan di Indonesia melalui proyek LRT Jakarta. Seluruh operasional dan pengelolaan LRT Jakarta berada di bawah kendali Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Jakarta Propertindo (Jakpro), dengan pembiayaan penuh dari APBD.
Di sisi lain, LRT Jabodebek memiliki jangkauan yang lebih luas, menghubungkan Jakarta dengan kota-kota penyangga seperti Bekasi, Depok, dan Bogor. Beroperasi sejak tahun 2023, LRT Jabodebek menggunakan sistem kelistrikan Listrik Aliran Bawah (LAB) dan Third Rail, di mana rel ketiga dialiri listrik sebagai sumber tenaga utama. Proyek strategis nasional ini merupakan hasil karya PT INKA Indonesia dan dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.
Jalur Lintasan dan Kapasitas Penumpang
Perbedaan signifikan lainnya terletak pada rute dan kapasitas angkut. LRT Jakarta tahap 1 saat ini memiliki lintasan sepanjang 5,8 kilometer dengan kemampuan mengangkut 270 penumpang per kereta. Terdapat enam stasiun yang melayani rute ini.
Sementara itu, LRT Jabodebek jauh lebih panjang, membentang sejauh 44,3 kilometer dan mampu menampung hingga 1.308 penumpang dalam satu rangkaian kereta. LRT Jabodebek melayani dua lintas perjalanan utama, yaitu lintas Cibubur dan lintas Bekasi, dengan total 18 stasiun.
Rute lintas Cibubur mencakup Stasiun Dukuh Atas, Setiabudi, Rasuna Said, Kuningan, Pancoran, Cikoko, Ciliwung, Cawang, TMII, Kampung Rambutan, Ciracas, Harjamukti. Sedangkan lintas Bekasi meliputi Stasiun Dukuh Atas, Setiabudi, Rasuna Said, Kuningan, Pancoran, Cikoko, Ciliwung, Cawang, Halim, Jatibening Baru, Cikunir 1, Cikunir 2, Bekasi Barat, dan Jati Mulya.
Struktur Tarif dan Jam Operasional
Urusan tarif, LRT Jakarta menerapkan skema harga tunggal sebesar Rp5.000 untuk setiap perjalanan, tanpa memandang jarak. Ini berlaku untuk perjalanan jauh maupun dekat.
Berbeda dengan itu, LRT Jabodebek menggunakan skema tarif progresif. Penumpang dikenakan biaya awal Rp5.000 untuk kilometer pertama, kemudian ditambah Rp700 untuk setiap kilometer berikutnya. Ada pula perbedaan tarif saat jam sibuk (peak hour) pada hari kerja (Senin-Jumat pukul 06.00-08.59 WIB dan 16.00-19.59 WIB), di mana tarif maksimal mencapai Rp20.000. Di luar jam sibuk, serta pada hari Sabtu, Minggu, dan libur nasional, tarif maksimal yang dikenakan adalah Rp10.000.
Untuk jam operasional, LRT Jakarta melayani penumpang setiap hari mulai pukul 05.30 WIB hingga 23.00 WIB. Sementara LRT Jabodebek memulai layanannya lebih awal, yakni pukul 05.00 WIB, dan berakhir pada pukul 23.27 WIB setiap hari.
Dengan segala perbedaan ini, baik LRT Jakarta maupun LRT Jabodebek sama-sama memegang peran krusial dalam membentuk masa depan transportasi publik yang lebih efisien dan berkelanjutan di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

