zonamerahnews.com – Api melahap Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah mengancam kelangsungan hidup satwa endemik terutama orang utan. Kawasan konservasi vital ini terus dilalap si jago merah dengan luasan yang kian memprihatinkan.
Hingga kini kobaran api belum sepenuhnya berhasil dijinakkan. Data terbaru menunjukkan lebih dari 3.100 hektare lahan telah hangus. Ini bukan sekadar angka namun representasi dari hilangnya habitat penting bagi Pongo pygmaeus atau orang utan Kalimantan.

Sekitar 70 personel gabungan dikerahkan untuk berjibaku memadamkan titik-titik api yang tersebar. Kepala Balai TNTP Yohan Hendratmoko menjelaskan upaya difokuskan untuk mencegah penyebaran api ke area yang lebih luas di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan. Namun medan yang sulit dijangkau keterbatasan sumber daya serta karakteristik lahan gambut yang dalam menjadi rintangan utama. Lahan gambut yang bisa menyimpan bara di bawah permukaan tanah membuat pemadaman jauh lebih rumit dan memakan waktu.
Berdasarkan laporan per 9 September kebakaran paling parah terjadi di tiga resor. Resor Sungai Cabang di SPTN Wilayah III Tanjung Harapan menderita dampak terluas sekitar 1.113 hektare sejak akhir Agustus. Menyusul Resor Teluk Pulai di wilayah yang sama dengan 1.062 hektare terbakar sejak awal Agustus. Sementara itu Resor Sungai Perlu di SPTN Wilayah II Kuala Pembuang Kabupaten Seruyan juga tak luput dengan 929 hektare lahan hangus sejak pertengahan Agustus.
Melihat kondisi yang kian genting Yohan sangat mengharapkan bantuan water bombing untuk mempercepat proses pemadaman. Bupati Kotawaringin Barat Nurhidayah turut menyoroti pentingnya menyelamatkan kawasan TNTP dan Hutan Danau Masorain. Kedua area ini bukan hanya rumah bagi orang utan tetapi juga pusat rehabilitasi serta pengembangan riset konservasi. Nurhidayah menegaskan bahwa baik orang utan maupun manusia sama-sama harus diselamatkan dari ancaman karhutla ini.

