zonamerahnews – Kabar duka menyelimuti kontingen pasukan perdamaian Indonesia yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Dalam rentang waktu kurang dari seminggu, tiga prajurit terbaik TNI gugur dan delapan lainnya mengalami luka-luka akibat serangkaian insiden tragis di Lebanon. Peristiwa ini menyoroti risiko tinggi yang dihadapi para penjaga perdamaian di tengah konflik yang kian memanas.
Tiga nama prajurit TNI yang kini tercatat sebagai pahlawan bangsa telah gugur dalam menjalankan misi kemanusiaan mereka. Mereka adalah Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Praka Farizal Rhomadhon gugur pada Minggu (29/3) setelah menjadi korban ledakan proyektil di dekat salah satu pos Indonesia di desa Adchit Al Qusayr, demikian pernyataan resmi dari pihak UNIFIL. Sehari setelahnya, pada Senin (30/3), Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan juga kehilangan nyawa akibat ledakan misterius yang sumbernya belum teridentifikasi.

Selain korban jiwa, sejumlah personel TNI juga mengalami luka-luka dalam insiden terpisah. Insiden paling mutakhir yang menambah daftar korban luka terjadi pada Jumat (3/4) di El Addaiseh, Lebanon selatan, sebuah wilayah yang dikenal sebagai basis kelompok Hizbullah. Tiga prajurit TNI terluka dalam ledakan tersebut, dengan dua di antaranya menderita luka parah. Keduanya segera dilarikan ke rumah sakit setempat untuk mendapatkan perawatan medis intensif. Syukurlah, kondisi mereka dilaporkan stabil setelah mendapatkan penanganan medis.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menegaskan bahwa insiden terbaru ini menandai kali ketiga pasukan perdamaian Indonesia terlibat dalam insiden serius hanya dalam kurun waktu satu minggu. Sebelum insiden di El Addaiseh, pada Senin (31/3), dua prajurit TNI lainnya juga mengalami luka-luka akibat ledakan di dekat Bani Hayyan. Bahkan, pada Minggu (29/3), di hari yang sama dengan gugurnya Praka Farizal, tiga prajurit TNI lain juga menjadi korban luka. Menurut keterangan Karo Infohan Setjen Kementerian Pertahanan Brigjen Rico Ricardo Sirait, satu di antaranya menderita luka berat, sementara dua lainnya mengalami luka ringan.
Indonesia dengan tegas menyatakan bahwa serangan berulang kali terhadap pasukan perdamaian tidak dapat ditoleransi, apapun motif atau penyebabnya. Kemlu RI juga mendesak pentingnya penguatan segera langkah-langkah perlindungan bagi seluruh personel pasukan perdamaian PBB, terutama mengingat eskalasi konflik di wilayah tersebut yang semakin membahayakan. Situasi ini menjadi pengingat pahit akan dedikasi dan pengorbanan para prajurit TNI dalam menjaga perdamaian dunia.

