zonamerahnews – Ribuan jemaah umrah dari Jawa Timur kini menghadapi situasi tak terduga di Tanah Suci. Mereka tertahan di Arab Saudi, imbas langsung dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir.
Menurut data terkini yang dirilis oleh Kementerian Haji Kantor Wilayah (Kanwil) Jawa Timur, jumlah jemaah yang mengalami penundaan kepulangan mencapai angka fantastis, yakni sekitar 9.400 orang. Plt Kepala Kemenhaj Jatim, Asadul Anam, mengonfirmasi kabar ini pada Senin lalu, menegaskan bahwa seluruh jemaah tersebut berasal dari provinsi Jawa Timur.

Anam menjelaskan bahwa penundaan ini bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan konsekuensi dari penyesuaian rute penerbangan serta kebijakan ketat yang diterapkan oleh otoritas Arab Saudi, demi menjamin keselamatan para jemaah di tengah situasi geopolitik yang memanas. Ia juga menambahkan, kabar baiknya adalah seluruh jemaah saat ini berada dalam kondisi aman dan senantiasa didampingi oleh pihak Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) masing-masing.
Menyikapi kondisi ini, Kementerian Haji mengimbau agar para jemaah yang tertahan, maupun keluarga mereka di Jawa Timur, untuk tetap menjaga ketenangan. Mereka diminta untuk sabar menanti informasi resmi terkait jadwal kepulangan yang aman, baik dari pemerintah Indonesia maupun dari otoritas Arab Saudi.
Lebih lanjut, Anam juga menyampaikan bahwa Kementerian Haji pusat telah mengambil langkah proaktif dengan mengeluarkan kebijakan penundaan sementara untuk keberangkatan jemaah umrah baru. Kebijakan ini akan berlaku hingga situasi di Timur Tengah benar-benar dinyatakan kondusif. Kanwil Kemenhaj Jatim, lanjutnya, berkomitmen penuh untuk menindaklanjuti instruksi ini dan memastikan informasi tersebut tersampaikan dengan baik kepada seluruh calon jemaah melalui PPIU di wilayahnya.
Dalam kesempatan ini, Kemenhaj juga menekankan pentingnya bagi seluruh PPIU di Jawa Timur untuk melakukan pertimbangan yang sangat matang terkait faktor keselamatan sebelum memutuskan untuk memberangkatkan jemaah. "Keamanan dan keselamatan jemaah adalah prioritas mutlak di tengah gejolak geopolitik yang masih belum menunjukkan tanda-tanda stabil," tutup Anam, mengakhiri pernyataannya.

