zonamerahnews – Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan baru-baru ini memperkenalkan identitas baru yang akan melekat pada kota mereka: ‘Religius Modern’. Konsep ini bukan sekadar slogan tanpa dasar, melainkan hasil dari riset komprehensif yang melibatkan langsung persepsi warga Pasuruan, bekerja sama dengan lembaga profesional LOGITERA.
Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo, menegaskan bahwa temuan riset untuk branding kota ini sangat penting guna memperkuat jati diri wilayah yang dipimpinnya. "Religius bukan berarti statis, modern bukan berarti tercerabut dari akar. Pasuruan menunjukkan keduanya menyatu dalam kehidupan warganya," ujar Adi dalam keterangan tertulisnya.

Proses perumusan identitas ini didasarkan pada riset terpadu yang menggabungkan beberapa metode. Salah satu metode utamanya adalah survei persepsi warga, yang memberikan gambaran jelas tentang bagaimana Pasuruan dilihat oleh penduduknya sendiri.
Data riset menunjukkan bahwa mayoritas responden, yakni 73,5 persen, mengidentifikasi keunikan Pasuruan pada nuansa religiusnya. Lebih lanjut, 58,4 persen warga memilih frasa ‘religius, santri, dan berkah’ sebagai deskripsi paling tepat untuk kota ini. Bahkan, 41,8 persen langsung teringat pada sosok santri, KH Abdul Hamid, dan ikon Payung Madinah di alun-alun ketika nama Pasuruan disebut.
Namun, riset yang sama juga mengungkap sisi lain Pasuruan yang tak kalah penting: sebuah kota yang dinamis dan hidup. Warga melihat alun-alun dan tugu kota sebagai pusat interaksi yang aktif, sementara pesisir, nelayan, dan pelabuhan menjadi denyut nadi ekonomi sehari-hari. Kuliner khas seperti bipang/jipang juga menjadi warisan yang terus diproduksi dan diperdagangkan, menunjukkan vitalitas ekonomi lokal.
Dari sinilah kata ‘Modern’ muncul. Pasuruan dipersepsikan sebagai ruang publik yang dinamis, dengan ekonomi kerakyatan yang terus bergerak, serta masyarakat yang terbuka dan majemuk, tempat beragam latar sosial dapat hidup berdampingan tanpa kehilangan identitasnya.
Temuan-temuan ini kemudian dirangkum menjadi enam simbol identitas inti: spiritualitas, pesisir-bahari, tugu kota, kemajemukan warga, kuliner khas, dan lanskap laut. Keseluruhan ini membentuk apa yang disebut sebagai Sistem Bahasa Visual Pasuruan.
Adi Wibowo menegaskan bahwa branding kota ini lebih dari sekadar logo baru. Ini adalah pijakan strategis untuk memperkuat berbagai kebijakan daerah, mulai dari sektor pariwisata, pengembangan ekonomi kreatif, komunikasi publik, hingga promosi investasi daerah.
Adi F. Nugrotomo, peneliti dari LOGITERA, menjelaskan pentingnya pendekatan berbasis warga dalam merumuskan branding ini. "Kami tidak memulai dari desain, melainkan dari ingatan warga. Ketika memori kolektif mengarah pada religiusitas, dan pada saat yang sama warga menggambarkan kotanya sebagai ruang yang hidup dan terbuka, maka ‘Religius Modern’ adalah simpulan empirik, bukan slogan kreatif," jelasnya.
Sosialisasi hasil riset ini telah dilakukan kepada seluruh jajaran aparatur Pemkot Pasuruan pada pertengahan 2025 lalu, dalam rangkaian acara Sosialisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Pasuruan Tahun 2025-2029. Ke depan, identitas visual ‘Religius Modern’ ini akan secara bertahap diaplikasikan di ruang-ruang publik, dokumen resmi, materi promosi, serta melalui kolaborasi dengan komunitas dan pelaku usaha lokal, menandai era baru bagi Kota Pasuruan.

