zonamerahnews – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, menunjukkan sikap pantang menyerah di tengah desakan pengunduran dirinya. Terbaru, Gus Yahya, sapaan akrabnya, mengundang puluhan kiai dan ulama terkemuka dalam acara "Silaturahmi Alim Ulama" yang digelar di Gedung PBNU, Jakarta, malam ini (23/11).
Penegasan untuk tetap memimpin PBNU ini muncul setelah adanya risalah rapat harian Syuriah PBNU yang meminta dirinya mundur dalam waktu tiga hari. Risalah tersebut bahkan mengancam pemberhentian jika Yahya Staquf tidak mengindahkan permintaan tersebut.

Gus Yahya menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki niatan untuk mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PBNU. Ia merasa memiliki amanah dari muktamar untuk memimpin selama lima tahun dan bertekad untuk menunaikan amanah tersebut.
"Saya mendapatkan mandat lima tahun dan akan saya jalani lima tahun. Insya Allah saya sanggup. Maka saya sama sekali tidak terbesit pikiran untuk mundur," tegasnya.
Keputusan Syuriah PBNU untuk mendesak pengunduran diri Yahya Staquf diduga terkait dengan undangan narasumber jaringan zionisme internasional dalam Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU) yang dianggap melanggar nilai dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah. Selain itu, juga terkait dengan adanya indikasi pelanggaran dalam tata kelola keuangan di lingkungan PBNU.
Menariknya, dalam daftar undangan "Silaturahmi Alim Ulama" yang beredar, tidak tercantum nama Rais Aam PBNU, Miftachul Akhyar, maupun Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Hal ini menimbulkan spekulasi mengenai adanya perpecahan internal di tubuh PBNU.
Sebelumnya, PBNU telah mengumpulkan seluruh pengurus wilayah di Surabaya pada Sabtu (22/11) malam. Rapat koordinasi tersebut digelar atas undangan Wakil Ketua Umum PBNU Amin Said Husni dan Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Faisal Saimima. Zonamerahnews.com masih berupaya mendapatkan keterangan resmi dari pihak-pihak terkait mengenai perkembangan situasi terkini di PBNU.

