zonamerahnews – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, akhirnya buka suara terkait isu panas dugaan pemalsuan riset yang melibatkan sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI). Kasus ini mencuat dalam gelaran International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Denmark, yang kini menarik perhatian serius Mendiktisaintek.
Menteri Brian Yuliarto menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam dan memberikan atensi penuh terhadap informasi yang beredar luas. "Kemdiktisaintek memberikan perhatian terhadap informasi yang berkembang terkait dugaan pelanggaran integritas akademik dan etika penelitian yang melibatkan pihak yang menggunakan afiliasi institusi di Indonesia," ujar Brian, seperti dikutip dari Detik pada Rabu (27/5).

Saat ini, proses pendalaman dan koordinasi intensif sedang berlangsung bersama pihak-pihak terkait. Tujuannya adalah untuk memastikan fakta-fakta sebenarnya, termasuk status WNI yang terlibat, bentuk afiliasi yang digunakan, serta keterkaitannya dengan lembaga pendidikan tinggi atau riset di Tanah Air. Mendiktisaintek berkomitmen untuk mengungkap kebenaran di balik dugaan riset fiktif ini.
Dalam penanganan kasus ini, Mendiktisaintek mengedepankan prinsip kehati-hatian. Setiap pihak berhak mendapatkan ruang klarifikasi, dan setiap dugaan perlu diverifikasi secara objektif berdasarkan bukti konkret serta mekanisme yang berlaku di lingkungan akademik dan penelitian.
Meski demikian, informasi awal yang diterima menyebutkan bahwa individu-individu yang diduga terlibat tidak teridentifikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Namun, kasus ini tetap menjadi sorotan utama karena dapat berdampak pada persepsi global terhadap ekosistem riset nasional secara keseluruhan. "Persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas," tutur Brian.
Skandal ini terkuak dalam konferensi ilmiah internasional ISPPD 2026, sebuah ajang bergengsi bagi para ahli pneumonia di seluruh dunia, yang berlangsung di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei. Dalam kegiatan tersebut, beberapa individu asal Indonesia, di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti, mempresentasikan sejumlah hasil penelitian yang awalnya dianggap "sangat impresif." Namun, kecurigaan muncul setelah dugaan fabrikasi data dan penelitian yang tidak pernah benar-benar dilakukan terkuak. Bahkan, ada indikasi pemalsuan identitas.
Kecurangan terorganisir ini pertama kali diungkap oleh peneliti Ida Bagus Mandhara Brasika melalui akun Threads-nya. "Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia," tulis Mandhara Brasika. Ia menyoroti modus operandi pelaku yang diduga berganti-ganti nama saat presentasi, hanya bermodal perubahan jilbab dan nametag.
"Yang lebih gila… Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu! Dibuat dengan AI dan/atau fabrikasi data," lanjut Mandhara Brasika. Riset tersebut dirancang agar terlihat luar biasa, padahal faktanya tidak pernah ada. Data, gambar, dan tulisannya diyakini digenerasi oleh kecerdasan buatan (AI), menciptakan narasi ilmiah yang sepenuhnya fiktif.
Indonesia sendiri memiliki kerangka kerja yang kuat untuk menjaga integritas riset. Melalui perguruan tinggi, komite etik, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), sistem penjaminan mutu akademik, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi dari Kemdiktisaintek maupun Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sesuai kewenangan masing-masing. Kasus ini menjadi ujian bagi komitmen Indonesia dalam menjunjung tinggi standar etika dan integritas ilmiah di kancah global, dan investigasi mendalam akan terus dilakukan untuk menjaga nama baik riset nasional.

