zonamerahnews – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan tegas menyatakan komitmennya untuk memastikan stabilitas harga dan ketersediaan stok pangan menjelang bulan suci Ramadan dan perayaan Idulfitri 2026. Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Uus Kuswanto, menekankan bahwa tidak boleh ada lonjakan harga maupun kekurangan pasokan komoditas pokok yang memberatkan masyarakat Ibu Kota.
Uus meminta seluruh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pangan, khususnya PT Food Station Tjipinang Jaya, untuk bekerja keras menjaga agar komoditas utama tetap aman dan terkendali. "Seperti yang disampaikan Bapak Gubernur, tidak ada lagi alasan bagi Pemprov DKI untuk tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok warga. Kita harus mengantisipasi, jangan sampai ada ‘kagetan’ menjelang Ramadan dan Idulfitri," ujar Uus dalam keterangan tertulis yang diterima zonamerahnews.com pada Kamis (12/2).

Ia menambahkan, stabilitas pangan merupakan elemen krusial dalam menjaga inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta. Saat ini, perekonomian Ibu Kota mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,21 persen, melampaui rata-rata nasional. "Ketersediaan pangan yang stabil adalah fondasi utama bagi stabilitas ekonomi. Dengan koordinasi yang kuat dan langkah antisipatif, kami optimis kebutuhan masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri dapat terpenuhi, inflasi terkendali, dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga," jelasnya.
Menanggapi arahan tersebut, PT Food Station Tjipinang Jaya memaparkan strategi komprehensif mereka dalam menghadapi lonjakan permintaan pangan. Direktur Utama Food Station Tjipinang Jaya, Dodot Tri Widodo, menjelaskan bahwa setiap hari besar keagamaan selalu diikuti peningkatan konsumsi, terutama untuk komoditas tertentu.
"Untuk beras, kenaikannya tidak terlalu signifikan, sekitar delapan persen. Namun, telur ayam bisa melonjak antara 7 hingga 17 persen. Jadi, memang ada peningkatan konsumsi yang perlu diantisipasi," kata Dodot.
Untuk mengamankan pasokan, Food Station memperluas kemitraan lintas daerah melalui dua pendekatan utama: standby buyer (membeli gabah langsung dari daerah penghasil) dan on farming (membiayai petani untuk menanam padi). "Kami menjalin kerja sama dengan berbagai daerah produsen beras, mulai dari Lampung, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, hingga yang terbaru di Bali," ungkap Dodot.
Saat ini, stok beras yang dikelola Food Station mencapai 80.000 ton. Dengan prognosa kebutuhan rumah tangga periode Februari-Maret sebesar 151.023 ton dan kebutuhan khusus Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) sekitar 18.000 ton, Dodot memastikan pasokan aman. Kebutuhan beras normal Jakarta berkisar 2.500 ton per hari, atau sekitar 70.000-75.000 ton per bulan. "Angka ini cukup memadai, apalagi kami juga mengelola Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) yang rata-rata stok hariannya mencapai 40.000 ton. Ini berarti pasokan aman untuk setidaknya 20 hari ke depan," jelasnya.
Selain beras, permintaan gula pasir juga diperkirakan naik tajam selama Ramadan dan Idulfitri, terutama untuk kebutuhan membuat kue dan makanan berat. Stok gula pasir saat ini 192 ton, dan Food Station berencana menambah 1.447 ton melalui kerja sama dengan PT PN dan ID Food. Untuk minyak goreng, dari stok 36.234 liter, akan dilakukan pengadaan masif sebesar 643.530 liter guna memenuhi kebutuhan HBKN. Stok telur ayam yang saat ini 4,1 ton akan ditambah 1.002 ton, dan tepung terigu dari 25 ton akan ditingkatkan menjadi 63,2 ton.
Di sisi distribusi, Food Station mengoptimalkan jaringan perdagangan modern di 39.000 lokasi dan jaringan konvensional dengan 1.000 pelanggan. Untuk menjaga keterjangkauan harga, perusahaan juga gencar menggelar operasi pasar murah bersubsidi. "Pasar murah ini kami laksanakan setiap hari di 10 titik, meliputi kelurahan dan rumah susun, untuk melayani kebutuhan masyarakat, terutama segmen menengah ke bawah, agar dapat mengakses pangan dengan harga terjangkau," pungkas Dodot.

