zonamerahnews.com – Langit Selat Sunda mendadak mencekam pada Sabtu pagi menyusul letusan dahsyat Gunung Anak Krakatau. Semburan material vulkanik melesat tinggi ke angkasa, menyebarkan abu pekat yang kini menyelimuti lima provinsi vital di Indonesia. Dari Banten hingga Lampung DKI Jakarta Jawa Barat bahkan Sumatera Selatan warga merasakan dampak langsung dari amukan gunung api ini.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi PVMBG melaporkan bahwa gejolak Anak Krakatau belum mereda. Aktivitas letusan terus terpantau dengan suara gemuruh yang masih terdengar jelas mengindikasikan bahwa potensi bahaya masih mengintai. Kepala PVMBG Rita Susilawati menegaskan pemantauan intensif terus dilakukan.

Sebelumnya suara dentuman misterius yang menggelegar di sejumlah wilayah Jawa Barat pada 4-5 September diduga kuat berasal dari letusan Anak Krakatau. Fenomena serupa pernah terjadi saat Gunung Kelud meletus pada 2014 di mana suaranya terdengar hingga Yogyakarta. Demikian pula pada April 2020 dentuman Anak Krakatau sempat membuat warga Jakarta dan sekitarnya terkejut.
Hingga Minggu pagi hujan abu vulkanik terus dirasakan warga di Ibu Kota dan Jawa Barat. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika BMKG mengidentifikasi dua pola sebaran abu. Klaster pertama mengarah ke Jakarta Banten dan Jawa Barat mencapai ketinggian 20.000 kaki. Sementara itu klaster kedua yang lebih tinggi hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya-barat laut mencakup sebagian Banten Lampung Bengkulu Selat Sunda bagian selatan serta Samudra Hindia.
Imbas paling signifikan adalah lumpuhnya operasional sejumlah bandara vital. Sebanyak tujuh bandara terpaksa ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik dengan perpanjangan penutupan hingga Senin pagi. Bandara-bandara tersebut meliputi Soekarno-Hatta Tangerang Halim Perdanakusuma Jakarta Radin Inten II Lampung Husein Sastranegara Bandung Budiarto Curug Taufik Kiemas Sumatera Selatan dan Atung Bungsu. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi telah menyiapkan tiga bandara alternatif di Kertajati Ahmad Yani Semarang dan Juanda Surabaya untuk mengantisipasi penerbangan yang terdampak.
Tak hanya sektor transportasi dunia pendidikan pun merasakan dampaknya. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara resmi memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh PJJ mulai Senin 7 September 2026 untuk seluruh jenjang sekolah dari PAUD hingga SMA/SMK baik negeri maupun swasta. Gubernur DKI Pramono Anung mengimbau seluruh warga untuk tetap tenang namun waspada mengingat status Anak Krakatau masih Siaga Level III.
Langkah serupa juga diambil oleh Kota dan Kabupaten Tangerang. Setelah sempat merencanakan pembelajaran tatap muka Dinas Pendidikan setempat akhirnya memutuskan untuk beralih ke PJJ mulai Senin 7 September. Kebijakan ini diambil demi keselamatan peserta didik dan sebagai antisipasi terhadap potensi bahaya abu vulkanik. Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Wahyudi Iskandar menyatakan PJJ akan berlangsung selama tiga hari sebagai tahap awal hingga Rabu 9 September 2026 dengan proses belajar mengajar tetap berjalan dari rumah.

