zonamerahnews.com – Dewan Transportasi Kota Jakarta DTKJ baru-baru ini meluncurkan gagasan revolusioner untuk mengubah cara warga ibu kota membayar transportasi umum. Sebuah usulan menarik muncul demi meringankan beban biaya harian para komuter setia Transjakarta. Ide utamanya adalah memperkenalkan sistem tarif berlangganan bulanan yang diklaim jauh lebih hemat di kantong.
Ketua DTKJ Sugihardjo mengungkapkan wacana ini setelah pelantikan pengurus periode 2026-2029 di Balai Kota DKI Jakarta. Menurutnya, konsep tarif berlangganan ini akan sangat membantu para pekerja yang setiap hari mengandalkan Transjakarta dan moda pendukungnya seperti Mikrotrans. Skema ini memungkinkan pengguna untuk membayar Rp200 ribu saja per bulan, jauh lebih murah dibandingkan jika harus membayar harian.

Perhitungan di balik tarif langganan ini cukup sederhana. Jika seorang pekerja melakukan perjalanan pulang pergi selama 25 hari kerja dalam sebulan, dengan tarif harian Rp5.000 per perjalanan, total biaya yang dikeluarkan bisa mencapai Rp250 ribu. Dengan paket langganan Rp200 ribu, pengguna akan mendapatkan diskon sebesar 20 persen. Sugihardjo menambahkan bahwa model berlangganan seperti ini sudah lazim diterapkan di berbagai negara dan terbukti efektif mendorong penggunaan transportasi publik. Meski demikian, usulan ini masih akan dibahas lebih lanjut, termasuk kemungkinan opsi langganan mingguan atau dua mingguan untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan, termasuk wisatawan.
Selain paket bulanan, DTKJ juga mengusulkan penyesuaian tarif reguler Transjakarta. Tarif tunggal sebesar Rp5.000 diwacanakan untuk layanan BRT non-BRT dan Mikrotrans yang terintegrasi. Sugihardjo menjelaskan, meskipun tarif BRT naik dari Rp3.500 menjadi Rp5.000, banyak masyarakat justru akan diuntungkan. Pasalnya, mereka yang sebelumnya harus membayar dua kali karena berpindah moda transportasi, kini cukup membayar satu kali untuk layanan terintegrasi.
Perubahan signifikan juga diusulkan untuk Mikrotrans. Angkutan pengumpan yang selama ini gratis ini direncanakan akan dikenakan tarif Rp2.000. Alasan di balik perubahan ini cukup mengejutkan. Sugihardjo mengklaim, tarif gratis berpotensi menyebabkan manipulasi data penumpang oleh operator demi memenuhi target kontrak. Dengan adanya biaya Rp2.000 per perjalanan, data jumlah penumpang diharapkan menjadi lebih akurat dan riil karena setiap transaksi harus dibayar.
Tidak hanya dalam kota, DTKJ juga menggagas penyesuaian tarif untuk TransJabodetabek menjadi Rp10.000. Dengan tarif ini, penumpang TransJabodetabek nantinya dapat menikmati integrasi layanan dengan TransJakarta, bahkan ke depannya diharapkan bisa terintegrasi dengan LRT dan MRT.
Sugihardjo menegaskan, semua usulan ini masih dalam tahap kajian mendalam dan belum menjadi keputusan final. Ia menekankan bahwa setiap penyesuaian tarif harus diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan yang signifikan. Tujuannya agar masyarakat tetap nyaman dan semakin tertarik untuk beralih menggunakan transportasi umum.

