zonamerahnews – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bersama PT Hutama Karya (HK) tengah menggalakkan upaya percepatan revitalisasi sungai dan sistem irigasi di Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara. Inisiatif ini merupakan respons cepat terhadap dampak parah bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut pada akhir tahun lalu, dengan fokus utama pada pemulihan fungsi vital aliran air dan aksesibilitas masyarakat.
Kolaborasi strategis antara dua entitas besar ini diarahkan untuk menormalisasi sungai-sungai yang terdampak, mengembalikan kelancaran aliran air, serta memastikan akses warga kembali pulih sepenuhnya. Langkah ini menjadi bagian krusial dari fase pemulihan pascabencana yang kini digulirkan secara bertahap di seluruh area yang mengalami kerusakan.

Di Desa Bener Berpapah, misalnya, empat unit alat berat telah dimobilisasi untuk membersihkan tumpukan material sisa banjir bandang dan longsor. Pekerjaan masif ini diinisiasi oleh Satuan Tugas Penanganan Bencana Balai Wilayah Sungai Sumatra I, menunjukkan komitmen serius untuk mempercepat proses pemulihan di lapangan.
Jainudin, selaku Pengawas Lapangan dari Hutama Karya, menjelaskan bahwa pengerahan alat berat bertujuan untuk memperbaiki sistem aliran air yang sebelumnya terhambat oleh material. "Normalisasi ini sudah berjalan hampir dua minggu, dengan prioritas utama membuka kembali jalur pengairan dan akses jalan yang terputus," ungkap Jainudin, seperti dikutip oleh zonamerahnews.com pada Selasa (3/2).
Material berupa bebatuan besar dan kayu yang menumpuk di dasar sungai kini diangkat secara bertahap, memastikan aliran air dapat kembali mengalir lancar. Selain itu, fondasi di sepanjang bibir sungai juga diperkuat untuk mencegah abrasi lebih lanjut dan membatasi area jalan yang sempat ambles akibat terjangan air.
Sebelum intervensi normalisasi ini, kondisi aliran sungai sangat terganggu, bahkan akses pejalan kaki sempat terputus total. Namun, berkat upaya pembersihan yang intensif, situasi mulai menunjukkan perbaikan signifikan, dan fungsi sungai perlahan kembali ke kondisi normal.
Jainudin menegaskan bahwa proses pemulihan akan terus dilanjutkan hingga seluruh kebutuhan akses warga terpenuhi. Hingga saat ini, pekerjaan telah difokuskan pada dua titik krusial di Kecamatan Ketambe. Sebelumnya, normalisasi serupa telah berhasil diselesaikan di Desa Lawe Mengkudu, yang berjarak sekitar dua kilometer dari Bener Berpapah, dan selanjutnya akan merambah desa-desa lain yang masih membutuhkan penanganan.
Pelaksanaan normalisasi ini dilaporkan berjalan relatif mulus tanpa kendala berarti, berkat dukungan penuh dari pemerintah desa dan partisipasi aktif masyarakat setempat. Sinergi ini menjadi kunci kelancaran pekerjaan di lapangan.
Diharapkan, upaya ini tidak hanya akan melancarkan aliran sungai, tetapi juga secara signifikan meminimalisir potensi risiko banjir saat curah hujan tinggi. Pemulihan fungsi sungai juga krusial untuk menjaga keamanan lingkungan dan keberlangsungan aktivitas sehari-hari warga.
Di sisi lain, Kementerian PU kembali menegaskan komitmennya untuk memberikan dukungan berkelanjutan dalam penanganan dampak bencana di Aceh. Komitmen ini selaras dengan penetapan status transisi dari tanggap darurat ke pemulihan oleh Pemerintah Aceh.
Menteri PU, Dody Hanggodo, menyatakan dukungan penuh terhadap pemerintah daerah dalam setiap tahapan penanganan pascabencana. "Fokus utama kami saat ini adalah memastikan infrastruktur vital seperti konektivitas, pasokan air bersih, sanitasi, penyediaan hunian sementara, dan fasilitas publik dapat segera pulih agar masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan normal," terang Dody.
Selain itu, Kementerian PU juga menaruh perhatian besar pada keberlanjutan layanan irigasi, khususnya di wilayah-wilayah sentra pangan. Menurut Dody, percepatan pemulihan irigasi sangat mendesak agar aktivitas pertanian dan mata pencarian petani tidak terganggu. "Irigasi adalah tulang punggung pertanian. Begitu terjadi gangguan, penanganannya harus cepat agar saluran kembali berfungsi optimal," pungkas Dody.

