zonamerahnews.com – Di tengah padatnya agenda sebagai Presiden terpilih periode 2024-2029, Prabowo Subianto memiliki cara unik untuk menjaga stamina dan kesehatan mentalnya. Bukan sekadar rehat biasa, ia menyebut aktivitas berenang sebagai metode relaksasi favoritnya, bahkan mengibaratkannya sebagai sebuah meditasi di dalam air.
Menurut Prabowo, berenang memiliki peran vital dalam meredakan ketegangan. Ia merujuk pada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa aktivitas di air dapat menjadi bentuk meditasi yang efektif bagi manusia. Filosofi ini, lanjutnya, tak lepas dari pengalaman fundamental kehidupan, di mana manusia pernah terlindungi dalam cairan ketuban selama berada di kandungan. Konsep ini menjelaskan mengapa sentuhan air, seperti mandi atau berenang, seringkali memberikan efek menenangkan saat seseorang merasa lelah atau stres.

Selain menyelami ketenangan di kolam renang, Ketua Umum Partai Gerindra ini juga mengandalkan tidur dan membaca buku sebagai penyeimbang kesibukannya. Prabowo dikenal sebagai sosok yang mampu mengoptimalkan waktu istirahatnya. Ia bisa terlelap kapan saja dan di mana saja, baik itu di dalam mobil, helikopter, maupun pesawat, meski hanya untuk durasi singkat 10 hingga 20 menit. Kemampuan ini menjadi kunci vital baginya untuk tetap prima.
Kecintaannya pada buku juga tak kalah dalam. Prabowo mengaku sangat menggemari genre sejarah. Namun, ada satu judul yang memiliki tempat istimewa di hatinya: "Warrior of the Light" karya novelis Brazil, Paulo Coelho. Buku yang tidak terlalu tebal ini disebutnya sangat personal dan relevan dengan perjalanan hidupnya. Ia merasa seolah-olah Coelho berbicara langsung kepadanya setiap kali membaca lembar demi lembar.
Prabowo pertama kali mengenal buku inspiratif ini pada awal tahun 2000-an, hadiah dari sang kakak, Maryani Djojohadikusumo. Kala itu, ia mengakui sedang berada di titik terendah dalam hidupnya, pasca lengser di tahun 1998/1999 dan menghadapi berbagai tuduhan berat seperti kudeta dan penculikan. Buku tersebut menjadi semacam panduan dan penenang di masa-masa sulit tersebut, membentuk resiliensinya hingga kini.

