zonamerahnews.com – Kalimantan Tengah kini berada dalam cengkeraman krisis asap yang kian parah. Data terbaru menunjukkan lonjakan drastis jumlah titik api, mengancam kesehatan dan lingkungan di wilayah tersebut. Situasi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan warga dan pemerintah daerah.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, jumlah titik panas atau hotspot di Kalteng telah melonjak tajam, mencapai angka 3.947. Angka ini merupakan peningkatan signifikan dari sebelumnya yang hanya 1.837 titik. Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan data ini dalam konferensi pers pada Kamis lalu, merujuk pada pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan per tanggal 26 Agustus.

Tak hanya hotspot, 81 titik firespot juga terdeteksi di provinsi ini, mengindikasikan area lahan yang terbakar telah melampaui 7.634 hektar. Kondisi ini diperparah dengan jarak pandang yang menurun drastis hingga hanya empat kilometer, menimbulkan dampak serius pada aktivitas sehari-hari dan transportasi.
Upaya mitigasi dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus digencarkan. Tim gabungan fokus pada operasi darat di beberapa wilayah seperti Pulang Pisau, Seruyan, dan Kapuas. Prioritas utama adalah memadamkan api, membatasi penyebaran, serta melakukan proses pendinginan di area yang sudah terbakar untuk mencegah api kembali menyala.
Dampak karhutla ini juga mulai merambah sektor kesehatan. Di Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kobar, Jhonferi Sidabalok, mengungkapkan bahwa pola kasus ISPA fluktuatif namun menunjukkan lonjakan signifikan antara minggu ke-28 hingga minggu ke-32. Dalam satu pekan saja, tercatat sekitar 515 kasus ISPA, sebuah angka yang patut diwaspadai.

