zonamerahnews.com – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung optimistis megaproyek Pedestrian Deck Dukuh Atas yang dijuluki ‘cincin donat’ akan menjadi solusi ampuh mengurai kemacetan parah di jantung Ibu Kota khususnya kawasan Jalan Jenderal Sudirman. Infrastruktur modern ini ditargetkan rampung pada tahun 2028 dan siap mengubah cara warga Jakarta berpindah moda transportasi.
Pramono menjelaskan, salah satu biang kerok kemacetan di Dukuh Atas selama ini adalah aktivitas penumpang yang terpaksa naik turun di tepi jalan demi berpindah moda. Kondisi ini seringkali memperparah kepadatan lalu lintas. Dengan hadirnya jembatan pejalan kaki bertingkat ini, perpindahan antar moda akan terjadi di jalur atas, sehingga tidak lagi mengganggu kelancaran arus kendaraan di bawahnya.

"Dapat dipastikan kemacetan akan berkurang drastis. Seringkali, terutama saat sore atau ketika hujan di pagi hari, banyak orang turun di pinggir jalan dan ini sangat mengganggu lalu lintas," ujar Pramono saat peluncuran pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas di Jakarta Pusat.
Ia meyakini, setelah fasilitas ini beroperasi penuh, masyarakat akan lebih memilih jalur yang terhubung langsung dengan berbagai moda transportasi. Perpindahan menuju MRT Kereta Bandara LRT atau KRL akan menjadi jauh lebih mudah dan nyaman karena semua terintegrasi di satu level atas. Hal ini diharapkan mampu mendorong pengurangan kemacetan secara signifikan.
Pedestrian Deck Dukuh Atas dirancang sebagai bagian vital dari pengembangan kawasan berorientasi transit (TOD) di pusat kota. Fasilitas ini akan menjadi penghubung enam moda transportasi utama yaitu MRT Jakarta LRT Jakarta LRT Jabodebek KRL Commuter Line Kereta Bandara dan TransJakarta. Konsep "seamless mobility" yang diusung memungkinkan warga berpindah transportasi tanpa harus keluar ke jalan raya atau terpapar cuaca panas maupun hujan.
Tidak hanya sebagai simpul transportasi, kawasan ini juga berpotensi dilengkapi fasilitas penunjang seperti area city check-in dan layanan imigrasi khusus bagi pengguna kereta bandara di masa mendatang. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga berencana menggelar sayembara untuk menentukan nama resmi pedestrian deck yang kini populer dengan sebutan ‘cincin donat’ karena bentuknya yang melingkar unik.
Terkait pendanaan, Direktur Utama PT MRT Jakarta Tuhiyat mengonfirmasi bahwa seluruh biaya proyek ini ditanggung sepenuhnya oleh MRT Jakarta yang merupakan BUMD milik Pemprov DKI. Meski nilai investasi detailnya belum diumumkan, Pramono menegaskan bahwa sumber pembiayaan berasal dari perusahaan daerah yang mayoritas sahamnya dimiliki Pemprov DKI, termasuk melalui penyertaan modal daerah.
Awalnya, proyek ambisius ini diharapkan selesai bertepatan dengan perayaan 500 tahun Jakarta pada Juni 2027. Namun, setelah mempertimbangkan kompleksitas proses pembangunan, target penyelesaian diperkirakan mundur hingga tahun 2028. Desain pedestrian deck ini terinspirasi dari konsep serupa yang sukses diterapkan di Jepang, menjadi rujukan dalam kajian awal proyek. "Intinya, nanti bentuknya akan sangat jelas terlihat dan fungsional," tutup Pramono.

