zonamerahnews – Banjir kembali melanda Jakarta, Istana Kepresidenan angkat bicara. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyoroti perubahan tata ruang sebagai salah satu penyebab utama bencana ini. Menurutnya, curah hujan tinggi bukanlah satu-satunya faktor.
Pras menekankan bahwa pendangkalan sungai di Jakarta turut memperparah situasi. Dahulu, Jabodetabek memiliki lebih dari seribu setu yang berfungsi sebagai resapan air. Namun, kini jumlahnya menyusut drastis menjadi hanya sekitar 200 setu.

"Faktor cuaca memang berpengaruh, curah hujan di akhir Januari ini sangat tinggi. Tapi kita harus sadari, ini bukan sekadar masalah cuaca. Perubahan tata ruang sangat berpengaruh," ujar Pras di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (22/1).
Pemerintah pusat, lanjut Pras, terus berkoordinasi dengan Pemprov DKI Jakarta, BNPB, dan BMKG untuk mencari solusi. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah menggencarkan modifikasi cuaca di wilayah Jabodetabek. Tujuannya, untuk mengurangi curah hujan ekstrem.
"Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat yang terdampak," kata Pras.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan bahwa hingga Kamis (22/1) pukul 15.00 WIB, banjir merendam 45 RT dan 22 ruas jalan di Jakarta. Banjir tersebar di 18 RT di Jakarta Barat dan 27 RT di Jakarta Selatan. Ketinggian air mencapai 90 sentimeter di Kelurahan Sukabumi Selatan, Jakarta Barat.
"Hujan deras yang melanda wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pada Kamis, 22 Januari 2026 menyebabkan terjadinya beberapa genangan di wilayah DKI Jakarta. BPBD mencatat saat ini terdapat 45 RT dan 22 ruas jalan tergenang," demikian laporan resmi BPBD DKI Jakarta.

