zonamerahnews.com – Otoritas gizi nasional mengambil langkah tegas menyusul serangkaian insiden gangguan pencernaan yang diduga terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebuah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Batang, Jawa Tengah, menerima teguran keras, sementara operasional SPPG lain di Tulungagung, Jawa Timur, dibekukan sementara setelah ratusan peserta program jatuh sakit.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Trenggono menegaskan, pemantauan ketat terhadap pelaksanaan MBG adalah tanggung jawab bersama. Tidak hanya BGN, pemerintah daerah, TNI, dan Polri juga diharapkan aktif mengawasi setiap tahapan program. Trenggono mengingatkan bahwa makanan yang disajikan dalam program MBG tidak boleh dibawa pulang oleh penerima manfaat. Olahan makanan memiliki batas waktu konsumsi yang ketat, sehingga tidak disarankan untuk disimpan atau diedarkan kembali setelah melewati batas aman.

Menurut Trenggono, pengawasan menyeluruh dari proses pengolahan, distribusi, hingga konsumsi sangat krusial demi memastikan keamanan pangan. Ia menyoroti alur pengolahan di SPPG Bawang, Batang, yang dinilai tidak sesuai standar higienis, terutama terkait telur yang dimasak malam hari dan baru diproses keesokan paginya. "Pola pengolahan semacam itu tidak tepat. Banyak mekanisme bahan yang tidak pas," ujarnya.
Sementara itu, di Tulungagung, BGN membekukan sementara operasional SPPG Tanjungsari 1 selama 20 hari. Keputusan ini diambil menyusul laporan gangguan pencernaan yang dialami 198 siswa dan guru SMKN 1 Boyolangu. Koordinator Wilayah BGN Tulungagung, Habibi, menjelaskan pembekuan ini merupakan bagian dari evaluasi dan pembinaan untuk memastikan seluruh prosedur operasional layanan MBG berjalan sesuai standar yang ditetapkan. Selama masa pembinaan, tidak ada aktivitas produksi maupun distribusi MBG dari SPPG tersebut.
Habibi menambahkan, keputusan diambil segera setelah laporan keluhan kesehatan muncul. Selama penghentian sementara, BGN akan fokus pada perbaikan standar operasional prosedur (SOP) dan evaluasi menyeluruh terhadap proses produksi, pengolahan, hingga distribusi makanan. Salah satu aspek yang dievaluasi adalah komposisi menu yang disajikan saat insiden, yaitu ayam bakar, sambal, dan buah anggur. Menurut Habibi, kombinasi menu tersebut berpotensi memicu gangguan pencernaan pada individu dengan kondisi kesehatan atau sensitivitas tertentu.
Dinas Kesehatan Tulungagung mencatat total 198 orang mengalami keluhan gangguan pencernaan berdasarkan hasil surveilans epidemiologi. Sampel makanan telah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya untuk pengujian, dengan hasil diperkirakan keluar dalam dua pekan mendatang. BGN menegaskan, tindakan tegas ini adalah langkah preventif untuk menjaga mutu program MBG agar tetap aman dan memberikan manfaat optimal bagi seluruh peserta.

