zonamerahnews.com – Kecelakaan terbaliknya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa pada dini hari Minggu (13/9) telah mengungkap sejumlah kelemahan serius terkait kelayakan armada tersebut. Kapal yang sudah menua ini ternyata merupakan bekas armada Jepang dengan usia 39 tahun yang kemudian dimodifikasi untuk beroperasi di rute domestik Indonesia.
KM Virgo Transport 8, yang memiliki nomor identifikasi IMO 8625179, pertama kali diluncurkan pada tahun 1987 oleh galangan Shin Kurushima Onishi Shipyard dengan nama Ferry Kurushima. Selama lebih dari tiga dekade, kapal sepanjang 119 meter dengan tonase kotor 4.277 GT ini melayani rute Kokura-Matsuyama di Laut Pedalaman Seto, Jepang. Perairan tersebut dikenal sangat tenang karena dikelilingi tiga pulau besar yaitu Honshu, Shikoku, dan Kyushu serta memiliki kedalaman rata-rata hanya 38 meter.

Nasib kapal berubah setelah diambil alih oleh PT Virgo Karya Shipping pada akhir 2025. Sejak Juli 2026, kapal ini dipaksa melayani rute Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Perbedaan karakter perairan sangat signifikan karena Laut Jawa merupakan laut lepas yang terbuka terhadap angin monsun dengan potensi gelombang fluktuatif antara 1,5 hingga 2,5 meter.
Pakar Hidrodinamika dari Fakultas Teknologi Kelautan ITS Surabaya, Prof Ir I Ketut Aria Pria Utama, mengungkapkan bahwa usia kapal sebenarnya bukanlah masalah utama selama perawatannya terjaga. Namun yang menjadi perhatian krusial adalah aspek seakeeping atau kemampuan kapal beroperasi di laut lepas.
"Yang perlu dikritisi adalah apakah desain kapal buatan Jepang itu sesuai dan direkomendasikan untuk berlayar di lautan Indonesia dengan gelombang tinggi," kata Prof Ketut dalam wawancara di ITS Surabaya, Selasa (15/9).
Ia menjelaskan bahwa perbedaan topografi perairan menuntut spesifikasi kelayakan berbeda. Kapal bekas asal Jepang yang dirancang untuk perairan tenang sering kali memerlukan penyesuaian stabilitas yang signifikan ketika dialihkan ke rute laut lepas. Karakteristik rute yang ekstrem menuntut standar desain lambung kapal yang berbeda.
Lebih lanjut, Prof Ketut memaparkan bahwa kapal ferry tipe roll-on/roll-off (Ro-Ro) di negara empat musim seperti Jepang umumnya memiliki lambung tertutup penuh untuk menghadapi suhu dingin. Namun ketika dioperasikan di Indonesia, lambung kapal kerap dimodifikasi dengan menambah bukaan samping demi menghemat biaya penyejuk ruangan dan menekan pajak.
Modifikasi tersebut berpotensi mengurangi kestabilan kapal karena mengurangi ruang tertutup yang berisiko bagi stabilitas. Bahkan, penambahan pintu rampa samping yang diduga tidak ditutup rapat dapat menjadi celah masuknya air laut dalam jumlah besar.
"Kemungkinan lain adalah bahwa kapal itu ada pintu rampanya. Nah, pintu rampa itu apakah dia tidak ditutup, atau tidak ditutup dengan rapat, atau ada celah-celah begitu," ujarnya.
Jika air masuk ke geladak kendaraan tanpa sistem pompa yang memadai, efek sloshing atau permukaan bebas akan membuat kapal kehilangan keseimbangan secara drastis. Kondisi ini semakin berbahaya jika muatan kendaraan berat tidak diikat sesuai standar keselamatan pelayaran. Pergerakan puluhan truk di dalam kapal dapat menggeser titik pusat massa secara ekstrem.
Faktor lain yang turut berperan adalah dugaan rendahnya kedisiplinan kru terhadap standar edukasi keselamatan. Prof Ketut mencontohkan bahwa armada pelayaran di Indonesia jarang mempraktikkan safety induction layaknya di pesawat terbang. Penumpang sering masuk dan menyebar tanpa pengarahan posisi evakuasi maupun panduan penggunaan jaket pelampung.
Meski demikian, seluruh dugaan penyebab terbaliknya KM Virgo Transport 8 ini harus dibuktikan melalui investigasi menyeluruh oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). "Jadi semua yang dilakukan itu sifatnya dugaan, silakan memberi analisis, tapi kesimpulannya adalah ada di KNKT," tutup Prof Ketut.
KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak pada Minggu (13/9) pukul 02.00 WITA saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9). Kapal tersebut mengangkut 243 orang penumpang, awak kapal, hingga kru, serta 89 kendaraan. Dari total tersebut, 108 korban berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, 6 korban meninggal dunia, dan 129 orang lainnya masih dalam pencarian.

