zonamerahnews.com – Insiden karamnya Kapal Motor Virgo Transport 8 di Laut Jawa Minggu dini hari memicu pertanyaan besar. Banyak pihak mempertanyakan kelayakan operasional kapal tua ini di perairan Indonesia yang menantang. Seorang pakar hidrodinamika dari ITS Surabaya kini membongkar dugaan penyebab utamanya.
Penelusuran mengungkap Virgo Transport 8 bukanlah kapal baru. Armada berumur 39 tahun ini adalah bekas kapal Jepang yang dibangun pada 1987 oleh Shin Kurushima Onishi Shipyard. Dengan identifikasi IMO 8625179 kapal sepanjang 119 meter dan berbobot 4277 GT ini awalnya bernama Ferry Kurushima.

Selama hampir empat dekade hingga pertengahan 2025 kapal ini melayani rute Kokura Matsuyama melintasi Laut Pedalaman Seto Jepang. Perairan Seto dikenal dangkal dengan kedalaman rata-rata 38 meter dan terlindungi oleh tiga pulau besar. Kondisi ini menjadikannya rute pelayaran yang tenang bebas dari cuaca ekstrem dan gelombang tinggi.
Namun nasib kapal berubah drastis setelah diakuisisi PT Virgo Karya Shipping akhir 2025. Sejak Juli 2026 kapal ini dipaksa berlayar di rute Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Meskipun sama-sama dangkal rute baru ini melintasi Laut Jawa yang merupakan laut lepas. Laut Jawa sangat rentan terhadap angin monsun yang memicu arus kuat dan potensi gelombang bergejolak antara satu setengah hingga dua setengah meter.
Profesor Ir I Ketut Aria Pria Utama pakar Hidrodinamika dari Fakultas Teknologi Kelautan ITS Surabaya menyoroti masalah krusial. Menurutnya usia kapal bukanlah faktor utama jika perawatan terjaga. Yang lebih vital adalah aspek perancangan performa kapal di laut atau seakeeping yang sering terabaikan di Indonesia.
"Pertanyaan utamanya adalah apakah desain kapal buatan Jepang itu memang cocok dan direkomendasikan untuk berlayar di lautan Indonesia yang kerap bergelombang tinggi" ujar Prof Ketut di ITS Surabaya Selasa lalu. Guru Besar Teknik Perkapalan ITS itu menegaskan perbedaan topografi perairan menuntut spesifikasi kelayakan yang berbeda. Kapal yang didesain untuk laut pedalaman Jepang yang tenang membutuhkan penyesuaian stabilitas signifikan saat dialihkan ke rute laut lepas.
Lebih lanjut Prof Ketut membeberkan kapal ferry Ro-Ro di negara empat musim seperti Jepang umumnya memiliki lambung tertutup rapat untuk menghadapi suhu dingin. Namun saat dioperasikan di Indonesia lambung kapal sering dimodifikasi dengan menambah bukaan samping. Alasan modifikasi ini seringkali hanya untuk menghemat penggunaan AC dan menekan beban pajak ruang tertutup yang berisiko bagi stabilitas kapal.
Modifikasi lambung seperti penambahan pintu rampa samping yang diduga tidak tertutup rapat dapat memicu hilangnya keseimbangan kapal secara drastis. Ini berpotensi besar menjadi celah masuknya air laut. Jika air dalam jumlah besar masuk ke geladak kendaraan tanpa sistem pompa memadai air akan terjebak dan memicu efek permukaan bebas atau sloshing effect. Efek inilah yang membuat kapal seketika kehilangan keseimbangan dan bergoyang tidak normal.
Kondisi kapal yang oleng akan semakin parah jika muatan kendaraan berat di dalamnya tidak diikat sesuai standar keselamatan pelayaran. Pergerakan puluhan truk yang tidak terkontrol dapat menggeser titik pusat massa kapal secara ekstrem. Ini adalah risiko fatal yang sering terabaikan.
Faktor fatal lain yang disinyalir berkontribusi pada banyaknya korban jiwa adalah rendahnya disiplin kru terhadap standar edukasi keselamatan. Prof Ketut mencontohkan armada pelayaran di Indonesia jarang mempraktikkan safety induction layaknya di pesawat terbang. Penumpang seringkali masuk dan menyebar begitu saja tanpa pengarahan posisi evakuasi maupun panduan penggunaan jaket pelampung. Hal ini krusial untuk memastikan penumpang memahami langkah evakuasi mandiri di tengah laut yang tidak terduga.
Meskipun dugaan kelemahan operasional dan modifikasi kapal terlihat jelas Prof Ketut menegaskan semua rentetan dugaan penyebab karamnya KM Virgo Transport 8 ini harus dibuktikan melalui investigasi menyeluruh oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi KNKT. "Semua ini sifatnya dugaan silakan memberi analisis tapi kesimpulannya ada di KNKT" pungkas Prof Ketut.
KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak di perairan Laut Jawa pada Minggu 13 September pukul 0200 WITA. Kapal ini berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu 12 September mengangkut 243 orang penumpang awak kapal dan kru serta 89 kendaraan. Dari total korban 108 berhasil dievakuasi selamat 6 ditemukan meninggal dunia dan 129 lainnya masih dalam pencarian.

