zonamerahnews.com – Awal tahun ajaran 2026 2027 membawa kabar mengejutkan sejumlah sekolah negeri di Indonesia menghadapi minimnya jumlah murid baru Fenomena ini terjadi bahkan di kota-kota besar seperti Semarang dan Bandar Lampung Meski bangku-bangku kelas banyak yang kosong semarak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah MPLS tetap menyambut para pelajar baru sejak Senin 13 Juli Semangat para pendidik dan kesiapan fasilitas sekolah tetap terjaga demi memberikan layanan terbaik bagi setiap anak yang mendaftar
Di Pulau Sumatra SD Negeri 1 Gedung Meneng Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung hanya menerima dua siswa baru untuk kelas satu Guru Rita dari SDN 1 Gedung Meneng memastikan seluruh rangkaian MPLS tetap terlaksana Ia juga memberikan motivasi agar kedua siswa baru tidak merasa canggung Rita menegaskan para guru dan kakak kelas akan membimbing mereka belajar dengan ceria dan bahagia

Salah satu wali murid Andi menyatakan kebanggaannya menyekolahkan putrinya di sana Ia berharap SDN 1 Gedung Meneng bisa semakin sukses dan siswanya bertambah banyak di masa depan
Sementara itu di Bengkulu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rejang Lebong memberi kelonggaran Mereka memperbolehkan sekolah-sekolah untuk tetap menerima murid baru meski batas waktu pendaftaran telah lewat Kepala Disdikbud Rejang Lebong Zakaria Efendi menyebut dari 241 sekolah negeri SD dan SMP masih ada yang kekurangan pendaftar Kebijakan ini diharapkan mengisi kuota kelas sebelum penutupan Dapodik pertengahan Agustus 2026
Beberapa SMP di Rejang Lebong yang minim pendaftar antara lain SMPN 30 hanya lima pendaftar SMPN 38 enam pendaftar dan SMPN 40 hanya dua pendaftar Bahkan SMPN 35 belum mendapat calon siswa baru sama sekali Untuk tingkat SD tercatat 13 sekolah belum memiliki siswa baru Sekolah-sekolah ini umumnya berada di wilayah pedesaan atau jauh dari perkotaan
Bergeser ke Pulau Jawa situasi serupa terjadi Di Kota Semarang Jawa Tengah SDN Purwoyoso 01 Kecamatan Ngaliyan hanya menerima tiga murid baru Pihak sekolah tetap menggelar MPLS meriah bahkan menghadirkan badut Kepala SDN Purwoyoso 01 Hajar Riatiani menjelaskan minimnya siswa karena faktor demografi Lingkungan sekitar sekolah didominasi penduduk lansia yang tidak lagi memiliki anak usia SD Selain itu banyak warga pindah ke daerah perbatasan seperti Kaliwungu Kendal karena tingginya harga properti di Semarang
Di Magelang Jawa Tengah Kabid Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Magelang Sugiyarti melaporkan 24 SD memiliki rombongan belajar kurang dari 50 persen kuota Enam SD bahkan memiliki siswa kurang dari 10 SDN Cacaban 1 misalnya hanya mendapat tiga siswa baru SDN Potrobangsan 4 menerima empat siswa baru setelah berbagai upaya jemput bola dilakukan
Fenomena ini juga melanda Jawa Timur Tiga SD negeri di Kabupaten Blitar tidak mendapat murid baru sama sekali Ketiga sekolah itu adalah SD Kalimanis 4 di Kesamben SD Ringinrejo 3 di Wates dan SD Sumberboto 5 di Wonotirto Kepala Disdik Kabupaten Blitar Agus Santoso akan mengkaji penyebabnya mulai dari potensi ketiadaan lulusan TK hingga persaingan antar sekolah Verifikasi lapangan akan dilakukan untuk memahami akar masalah ini

