zonamerahnews.com – Gelombang protes mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa BEM se-Banyumas Raya mengguncang Alun-alun Purwokerto akhir pekan lalu. Ribuan massa turun ke jalan menyuarakan aspirasi mereka, namun kali ini dengan sentuhan berbeda yang menarik perhatian publik. Mereka tidak hanya berorasi, melainkan juga membuka lapak baca buku gratis serta pasar baju bekas cuma-cuma, sebuah pemandangan tak lazim di tengah demonstrasi. Aksi ini bahkan sempat menutup sebagian ruas Jalan Jenderal Soedirman Purwokerto.
Inisiatif lapak baca dan pasar baju bekas gratis ini bukan sekadar pelengkap, melainkan inti dari pesan yang ingin disampaikan. Setyawan selaku koordinator lapangan aksi menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan simbol kuat. Menurutnya, keresahan mendalam terhadap arah kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran bukan hanya milik kalangan akademisi, tetapi telah meresap ke seluruh lapisan masyarakat.

Setyawan menegaskan, aksi kali ini merupakan kelanjutan dari rentetan demonstrasi sebelumnya. Mahasiswa menilai kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini telah menciptakan berbagai persoalan serius, terutama di sektor ekonomi. "Kami sudah muak dengan situasi ini," ujar Setyawan kepada awak media. "Belum genap dua tahun menjabat, namun dampak kerusakan yang ditimbulkan sudah terasa sangat besar. Perekonomian nasional terlihat stagnan, imbas dari kebijakan fiskal serta proyek strategis nasional yang kami anggap tidak tepat sasaran."
Aksi ini, lanjut Setyawan, bertujuan untuk terus menggaungkan kritik agar pemerintah segera mengevaluasi dan mengubah arah kebijakannya. BEM Banyumas Raya secara tegas menyuarakan lima tuntutan pokok. Di antaranya adalah penghentian program Makan Bergizi Gratis MBG, pembatalan proyek Koperasi Desa Merah Putih KDMP, serta penegakan supremasi sipil melalui kritik terhadap Undang-Undang TNI dan Rancangan Undang-Undang RUU Polri.
Setyawan menambahkan, format aksi sengaja dirancang berbeda dari biasanya. Selain orasi yang membakar semangat, panggung juga dimeriahkan dengan pertunjukan musik, teatrikal, serta keberadaan lapak baca dan pasar baju bekas gratis. "Kami ingin mimbar bebas ini menjadi ruang ekspresi seni dan aspirasi. Ada band, ada teater. Ini membuktikan bahwa bukan hanya kami mahasiswa yang merasakan kejenuhan, tetapi masyarakat luas pun memiliki kegelisahan serupa," jelasnya.
Partisipasi dalam aksi ini juga sangat beragam. Tidak hanya mahasiswa dari berbagai organisasi kampus, namun juga komunitas masyarakat serta kelompok seperti Aksi Kamisan Purwokerto turut bergabung. "Kami sengaja melepas almamater, melebur menjadi satu dengan masyarakat," pungkas Setyawan. "Aksi ini mengatasnamakan BEM Banyumas Raya, namun kami juga merangkul rekan-rekan dari berbagai organisasi lain untuk bersama-sama menyuarakan perubahan."

