zonamerahnews.com – Yogyakarta diguncang insiden mengejutkan saat sejumlah mahasiswa Universitas Gadjah Mada UGM melancarkan aksi protes keras terhadap pejabat negara. Suasana diskusi bertajuk ‘Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia’ yang semula kondusif di Joglo GIK UGM Sleman berubah ricuh pada Senin malam. Para mahasiswa tak segan mengejar dan menggeruduk Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko yang hadir dalam acara tersebut.
Forum Kopdar yang mempertemukan para petinggi negara dengan audiens mahasiswa itu awalnya berjalan lancar. Ketiga pejabat bergantian menyampaikan pandangan mereka di panggung. Namun ketegangan memuncak saat giliran Budiman Sudjatmiko berbicara. Seketika itu pula massa mahasiswa merangsek naik ke panggung memicu kekacauan yang tak terhindarkan.

Momen tersebut sontak tak terkendali. Budiman Sudjatmiko dilaporkan "menghilang" usai turun dari panggung sementara Nusron Wahid dan Sudaryono harus berjalan kaki hingga dikejar-kejar oleh mahasiswa. Keduanya baru bisa dievakuasi menggunakan mobil patwal di area timur Bundaran UGM setelah sempat berdiskusi singkat di dekat pintu selatan kampus. Aksi dramatis ini dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa UGM yang sebagian besar mengaku telah hadir sejak awal acara.
Mesa dari Serikat Mahasiswa SEMA UGM salah satu motor penggerak aksi mengungkapkan alasan di balik protes keras mereka. Menurutnya para pejabat tersebut dinilai tidak pantas berbicara tentang Pancasila ketika suara rakyat masih dibungkam kritik dianggap gangguan dan uang negara dihamburkan untuk program-program yang tidak bermanfaat. Mesa menegaskan bahwa gesekan semacam ini lumrah terjadi dalam negara demokrasi.
"Saat ini mereka tidak hanya bisa dibisiki tapi memang harus diteriaki" ujar Mesa yang ditemui usai aksi. Ia menambahkan bahwa mendatangi langsung para pejabat adalah cara paling efektif karena metode lain tidak menjamin perubahan. Mesa juga menyebut aksi kejar-kejaran terjadi karena para pejabat berusaha menghindar dari diskusi dan pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukan mahasiswa.
Secara khusus Mesa menyoroti sosok Budiman Sudjatmiko yang dulunya menjadi inspirasi aktivisme namun kini dianggap berpaling dan mengkhianati perjuangan adik-adiknya. Kinerja pengentasan kemiskinan yang diembannya juga dinilai tidak berpihak pada rakyat kecil. "Jika kami dianggap jahat atau merusuh sesungguhnya kejahatan mereka jauh lebih besar" tegas Mesa. Ia mencontohkan banyak rakyat yang tanahnya dirampas untuk Proyek Strategis Nasional PSN yang ditanami ubi atau jagung tanpa kejelasan nasib petani.
Mesa menegaskan mahasiswa UGM tidak anti terhadap kedatangan pejabat ke kampus. Namun mereka menuntut agar para tamu tidak membawa data-data rekayasa atau informasi yang dipilah-pilah demi citra positif. "Jika mereka berbohong atau menipu inilah yang akan kami lakukan" pungkasnya. Aksi ini disebut sebagai pengingat bahwa mahasiswa tidak bisa dibodohi dan akan terus menyuarakan kebenaran.

