zonamerahnews – Gunung Marapi di Sumatera Barat kembali menunjukkan geliatnya. Pada Senin (9/2) sore, tepatnya pukul 17.00 WIB, gunung berapi ini dilaporkan meletus, memicu peringatan dini akan potensi bahaya banjir lahar dingin yang mengintai warga di lereng dan bantaran sungai.
Kepala Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Marapi, Ahmad Rifandi, menjelaskan bahwa erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 24,3 milimeter dan berlangsung selama 35 detik. Sayangnya, tinggi kolom abu vulkanik tidak dapat terpantau secara maksimal karena kondisi cuaca yang berkabut tebal di sekitar puncak. "Tinggi kolom abu tidak teramati. Gunung tertutup kabut," ujar Rifandi dalam keterangan tertulis yang diterima zonamerahnews.com.

Menyikapi kejadian ini, Rifandi mendesak masyarakat yang bermukim di lereng Marapi, khususnya dalam radius 3 kilometer dari kawah, untuk meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian. Status Gunung Marapi saat ini berada pada Level II atau Waspada, mengindikasikan bahwa aktivitas vulkanik masih perlu dicermati secara serius.
Sejumlah rekomendasi telah dikeluarkan untuk menjaga keselamatan warga. Pendaki, pengunjung, dan wisatawan dilarang keras memasuki atau melakukan aktivitas apapun dalam radius 3 kilometer dari pusat kawah. Selain itu, ancaman banjir lahar dingin menjadi perhatian utama yang harus diwaspadai.
"Masyarakat yang tinggal di sekitar lembah, bantaran, atau aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Marapi harus tetap mewaspadai potensi bahaya lahar atau banjir lahar," tegas Rifandi. Ia menambahkan bahwa risiko ini meningkat drastis terutama saat musim hujan tiba, di mana material vulkanik lepas dapat terbawa aliran air menjadi lumpur pekat dan merusak.
Mengingat riwayat Marapi yang kerap erupsi, kesiapsiagaan dan kepatuhan terhadap imbauan pihak berwenang menjadi kunci untuk meminimalisir dampak yang tidak diinginkan. Warga diimbau untuk selalu mengikuti informasi terbaru dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) atau otoritas setempat demi keselamatan bersama.

