zonamerahnews.com – Setelah menanti lebih dari satu abad, sebuah perubahan besar akhirnya menyentuh bagian paling sakral dari Candi Borobudur. Mahastupa atau stupa induk yang menjadi puncak kemegahan candi Buddha terbesar di dunia ini tengah menjalani proses pemugaran besar-besaran. Langkah ini menjadi momen bersejarah karena merupakan pemugaran kedua setelah terakhir kali dilakukan pada era kolonial sekitar 115 tahun silam.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa tindakan darurat ini diambil demi menyelamatkan struktur bangunan dari ancaman kerusakan serius. Berdasarkan hasil kajian mendalam, ditemukan adanya pergeseran susunan batu, munculnya rongga, hingga retakan pada struktur penyusun Mahastupa. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan bagi stabilitas bangunan cagar budaya tersebut.

Salah satu temuan yang mengejutkan adalah adanya proses penggaraman pada batuan candi. Fenomena ini dipicu oleh penggunaan semen di masa lampau yang meninggalkan endapan kapur. Akibatnya, batu-batu candi menjadi lunak dan rapuh. Tak hanya pada struktur utama, efek memutih akibat penggaraman ini juga mulai menyerang keindahan relief-relief kuno di dinding candi.
Untuk mengatasi masalah rumit ini, pemerintah tidak main-main dengan mengerahkan teknologi laser canggih. Teknologi ini digunakan untuk membersihkan endapan garam yang telah masuk ke dalam pori-pori batu secara sangat teliti. Meski menggunakan alat modern, proses pembersihan tetap dilakukan secara manual dengan standar konservasi yang sangat ketat agar material asli candi tidak mengalami kerusakan sedikit pun.
Proyek penyelamatan ini ditargetkan rampung pada akhir Oktober mendatang. Setelah urusan puncak candi selesai, fokus pemerintah selanjutnya adalah melakukan perawatan menyeluruh terhadap relief candi yang dijadwalkan mulai pada awal tahun depan.
Terkait wacana pemasangan chattra atau payung di puncak Mahastupa, pemerintah memilih untuk bersikap hati-hati. Aspirasi dari umat Buddha telah diterima, namun keputusan final masih menunggu hasil kajian dampak warisan budaya bersama pihak UNESCO. Saat ini, seluruh proses penguatan struktur tersebut tengah berjalan demi memastikan kemegahan Borobudur tetap abadi bagi generasi mendatang.

