zonamerahnews.com – Badai kritik kini tengah mengepung kursi Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyusul kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang tak kunjung padam selama tiga bulan terakhir. Kondisi di Kalimantan dan Sumatera yang kian memprihatinkan memicu gelombang ketidakpuasan dari berbagai pihak mulai dari anggota DPR hingga kelompok pemuda yang menuntut pertanggungjawaban nyata.
Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS Johan Rosihan secara tegas mempertanyakan efektivitas kepemimpinan Raja Juli dalam melindungi kawasan hutan. Menurutnya publik berhak mendapatkan penjelasan mengenai kecepatan respons dan koordinasi di lapangan karena dampak asap telah merusak kesehatan masyarakat secara luas. Johan menekankan bahwa keberhasilan seorang menteri bukan hanya diukur dari luas lahan yang dipadamkan melainkan dari seberapa cepat negara mampu menjamin keselamatan rakyatnya.

Senada dengan hal tersebut Sonny T Danaparamita dari Fraksi PDI Perjuangan mendesak pemerintah untuk segera menetapkan status darurat bencana. Ia mempertanyakan mengapa pemerintah terkesan lamban dalam menentukan apakah karhutla ini masuk dalam kategori bencana nasional atau daerah. Ketidakjelasan status ini dinilai membuat penanganan di lapangan menjadi tidak terukur sementara masyarakat terus menderita akibat polusi asap yang pekat.
Kemarahan warga pun meledak di lapangan. Di Kalimantan Tengah sejumlah pemuda melakukan aksi protes langsung di depan tempat menginap sang menteri. Salah satu orator aksi bernama Aris secara terbuka melayangkan tuntutan agar Raja Juli segera mundur dari jabatannya jika tidak mampu memberikan solusi konkret. Ia menilai kunjungan kerja yang dilakukan sang menteri ke wilayah terdampak selama ini hanya sekadar formalitas tanpa memberikan dampak nyata bagi warga yang sesak napas akibat kabut asap.
Menanggapi tekanan hebat tersebut Raja Juli Antoni menyatakan tidak akan mundur dari tugasnya. Ia menegaskan bahwa pemerintah memiliki empati mendalam terhadap penderitaan masyarakat dan berkomitmen untuk bekerja lebih keras lagi. Alih-alih merasa terpojok sang menteri justru menyebut kritik pedas dari publik sebagai vitamin untuk memacu semangat kerja tim di lapangan guna memadamkan api yang masih melalap ratusan hektare lahan di enam provinsi.

