zonamerahnews.com – Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari aktivis lingkungan Chanee Kalaweit Ia mengungkap dugaan kuat penyebab kebakaran hutan dan lahan karhutla di Kalimantan Chanee melakukan pemantauan udara dan menemukan titik-titik mencurigakan Ia menduga api berasal dari pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit atau aktivitas tambang Rekaman penelusuran udara ini dibagikan luas di media sosial dan memicu perhatian publik
Chanee menjelaskan realitas di lapangan sangat miris Api seringkali muncul dari tambang emas ilegal Para penambang membakar lahan di sekitar area mereka untuk memperluas wilayah tambang Tambang emas ilegal ini merajalela di banyak tempat Chanee melihat jelas adanya kaitan kuat dengan tambang emas jika bukan dari perkebunan sawitnya Ia juga menyoroti Kabupaten Barito Utara Di sana api nyaris selalu ada di dekat atau di samping area perkebunan sawit Chanee menegaskan skema tebang lalu bakar sering terjadi lalu api menjalar ke mana-mana Dalih bahwa itu ulah masyarakat bukan perusahaan seringkali muncul namun fakta di lapangan berkata lain

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebelumnya menyatakan pihaknya telah mengantongi sejumlah nama yang diduga terlibat penyebab karhutla di Kalimantan Temuan ini didapat dari penyelidikan dan investigasi mendalam Beberapa nama sudah diamankan oleh pihak kepolisian Listyo juga telah menginstruksikan seluruh jajaran untuk terus melakukan pemadaman area hutan yang terbakar Upaya pemadaman sedang gencar dilakukan di berbagai titik
Sementara itu Kementerian Lingkungan Hidup menerbitkan instruksi mendesak bagi enam gubernur di Sumatra dan Kalimantan Instruksi ini bertujuan memperketat penanganan karhutla Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat memfokuskan perlindungan keselamatan masyarakat di Riau Sumatra Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Jambi dan Kalimantan Selatan Pesan instruksi mendesak ini sangat penting Fenomena El Nino kuat yang melanda Indonesia sejak Juli 2026 dinilai menjadi pemicu utama meningkatnya kerawanan karhutla Kondisi ini memicu penurunan kualitas udara yang signifikan di beberapa daerah KLH melaporkan data pemantauan terbaru Konsentrasi PM25 di Kampar Riau mencapai 4884 mikrogram per meter kubik Ogan Ilir Sumatera Selatan 4739 mikrogram per meter kubik Katingan Kalimantan Tengah 3016 mikrogram per meter kubik Kota Jambi 2618 mikrogram per meter kubik Pontianak Kalimantan Barat 2641 mikrogram per meter kubik serta Banjarmasin Kalimantan Selatan 1740 mikrogram per meter kubik Data ini menunjukkan kondisi udara yang mengkhawatirkan

