zonamerahnews.com – Provinsi Papua Tengah kini dalam status siaga penuh menyusul deteksi ratusan titik panas yang mengancam wilayahnya. Merespons kondisi darurat ini Pemerintah Provinsi telah resmi membentuk Satuan Tugas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan atau Satgas Karhutla. Langkah cepat ini diambil setelah serangkaian rapat koordinasi mendalam menyikapi lonjakan kebakaran yang signifikan di berbagai daerah. Satgas ini akan menjadi garda terdepan dalam mengoordinasikan upaya pemadaman dan pencegahan di delapan kabupaten se-Papua Tengah.
Pembentukan Satgas Karhutla ini ditegaskan melalui Keputusan Gubernur Papua Tengah Nomor 100.3.1.144 Tahun 2026. Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa secara langsung memimpin satgas ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah. Juru Bicara Gubernur Emanuel You di Nabire menjelaskan bahwa Gubernur Nawipa akan memimpin rapat daring pada Minggu 23 Agustus dengan para bupati yang juga menjabat sebagai ketua satgas di masing-masing kabupaten. Pertemuan ini krusial untuk menyelaraskan strategi penanganan.

Data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika BMKG periode 23 hingga 29 Agustus 2026 menunjukkan Papua Tengah menjadi salah satu provinsi yang diselimuti asap bersama Papua Papua Barat Papua Pegunungan dan Papua Selatan. Secara keseluruhan di Pulau Papua terdeteksi 214 titik panas dengan 50 titik di antaranya berada di Papua Tengah. Angka ini diperkuat oleh laporan BMKG Nabire yang mencatat total 653 titik panas khusus di Papua Tengah. Kabupaten Nabire menjadi penyumbang terbanyak dengan 321 titik disusul Puncak 100 titik Dogiyai 97 titik dan Paniai 59 titik.
Emanuel You menambahkan bahwa Satgas Karhutla dibentuk untuk memastikan setiap kabupaten telah mengambil langkah awal yang tepat dalam menangani kebakaran. Selain itu satgas provinsi akan mengidentifikasi kondisi lapangan dan kebutuhan spesifik di setiap wilayah. Setiap kabupaten diwajibkan untuk melaporkan perkembangan kebakaran serta langkah tanggap darurat yang telah dilakukan. Data ini vital untuk menentukan tingkat eskalasi kebakaran dan menyesuaikan kebutuhan penanganan agar lebih efektif dan tepat sasaran.
Masyarakat juga diimbau untuk berperan aktif dalam mencegah kebakaran. Emanuel You mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran yang berpotensi merusak hutan dan lahan. Ia menekankan pentingnya menjaga kelestarian alam sebagai sumber kehidupan. "Jika kita menganggap hutan dan lahan sebagai noken kehidupan maka adalah kewajiban kita untuk menjaga dan melestarikannya. Jangan lagi melakukan aksi-aksi pembakaran" tegasnya.

