zonamerahnews.com – Nusa Tenggara Timur diterjang bencana dahsyat. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah ini pada Sabtu lalu telah menyisakan duka mendalam dan ribuan bangunan hancur. Laporan terkini dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB mengungkap skala kerusakan masif, dengan Kabupaten Ngada menjadi wilayah paling parah terdampak. Hingga Senin, jumlah korban meninggal dunia telah melonjak menjadi 68 jiwa, sementara 213 lainnya mengalami luka-luka.
Plt Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan bahwa tim di lapangan terus memperbarui data kerusakan. Di Kabupaten Nagekeo, tercatat 116 unit rumah hancur total, 6 unit rusak sedang, dan 42 unit mengalami kerusakan ringan. Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Ende dengan 108 rumah rusak berat, 85 rusak sedang, dan 268 rusak ringan.

Kabupaten Manggarai tidak luput dari amukan gempa, di mana 761 unit rumah luluh lantak, 76 unit rusak signifikan, dan 147 unit mengalami kerusakan minor. Sementara itu, di Manggarai Timur, 23 rumah rusak berat, 15 rusak sedang, dan 11 rusak ringan. Kabupaten Manggarai Barat juga mencatat angka tinggi dengan 481 rumah hancur, 202 rusak sedang, dan 231 rusak ringan. Namun, Kabupaten Ngada menjadi yang terparah, dengan total 1.796 unit rumah terdampak, dan BPBD setempat masih terus melakukan verifikasi tingkat kerusakan. Di Kabupaten Sikka, 145 rumah rusak berat, 16 rusak sedang, dan 12 rusak ringan.
Tidak hanya rumah warga, hantaman gempa juga merusak sejumlah fasilitas publik vital. Bangunan tempat ibadah, fasilitas kesehatan, lembaga pendidikan, perkantoran, hingga akses jalan ikut porak-poranda.
Meskipun tidak ada laporan warga yang hilang, tim SAR gabungan tetap bersiaga penuh di lokasi bencana. Sebanyak 63 personel Basarnas dan 1.799 potensi SAR dikerahkan, dengan fokus utama di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Pelayanan medis darurat juga terus diupayakan sejak awal kejadian, bahkan pos komando berencana mengoperasikan rumah sakit lapangan untuk menjangkau lebih banyak warga.
Data dari Pos Pendamping Nasional menunjukkan bahwa gempa susulan telah terjadi sebanyak 1.576 kali, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika BMKG melaporkan 54 gempa susulan di antaranya dirasakan oleh warga. Aktivitas gempa masih berfluktuasi, dan pola peluruhan belum terlihat jelas, diperkirakan kondisi akan mulai stabil dalam 2 hingga 3 minggu ke depan.
Sebagai respons cepat, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur telah memberlakukan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari, terhitung mulai 15 hingga 28 Agustus.

