zonamerahnews.com – Sebuah momen tak terduga mewarnai kunjungan Presiden Joko Widodo ke Lampung baru-baru ini. Dalam sebuah prosesi adat yang sakral, Presiden ketujuh Republik Indonesia itu menerima gelar kehormatan "Baginda Pemuka Bangsa" dan menjadi sorotan ketika menginjak kepala kerbau yang tergeletak di atas karpet merah. Peristiwa ini berlangsung di Kedatun Keagungan, Kota Bandar Lampung, menciptakan kehebohan sekaligus memancing rasa ingin tahu publik.
Pemandangan kepala kerbau yang diletakkan di atas hamparan karpet merah menjadi inti dari ritual yang menarik perhatian banyak pihak. Prosesi ini bukan sekadar seremonial biasa, melainkan memiliki makna mendalam yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Lampung.

Tokoh adat Lampung, Mawardi Rahma Harirama, yang juga dikenal dengan gelar Sultan Seghayo Dipuncak Nur, menjelaskan bahwa penganugerahan gelar adat atau yang disebut "muakhi" ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Lampung selama ribuan tahun. Menurutnya, ritual ini merupakan perwujudan dari filosofi "piil pesenggiri", sebuah falsafah hidup masyarakat Lampung yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai silaturahmi atau "nemui nyimah".
Mawardi menambahkan, di era modern ini, tradisi adat tersebut dikemas ulang sebagai sebuah prosesi budaya yang bertujuan untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu, ritual ini juga menjadi ajang untuk memperkenalkan kekayaan adat dan budaya Lampung ke kancah nasional, bahkan ke seluruh Nusantara. Gelar "Baginda Pemuka Bangsa" sendiri, lanjut Mawardi, merupakan simbol penghargaan atas dedikasi dan pengabdian Presiden Jokowi selama memimpin Indonesia.
Kunjungan Presiden Jokowi ke Lampung berlangsung selama beberapa hari, di mana ia tidak hanya menerima gelar adat dari lima kerajaan adat Lampung. Dalam safari politiknya, Presiden juga menghadiri konsolidasi Rakorda PSI di Kabupaten Mesuji, Tulang Bawang, dan Kota Bandar Lampung. Selain itu, ia menyempatkan diri untuk bertemu dengan para relawan, tokoh adat, pelaku UMKM Maliosewu, serta bersilaturahmi dengan masyarakat di berbagai daerah sebelum akhirnya kembali ke Solo melalui Bandara Radin Inten II.

