zonamerahnews.com – Arena politik nasional kembali memanas setelah politikus Partai Demokrat Yan Harahap melancarkan kritik tajam kepada Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus. Yan menyoroti sikap Deddy yang tampak terusik oleh pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Demokrat mempertanyakan mengapa pesan yang menyerukan persatuan justru dianggap sebagai provokasi.
Yan Harahap mengungkapkan keheranannya. Menurutnya, AHY sebelumnya hanya menyampaikan ajakan agar semua pihak memprioritaskan kepentingan bangsa di atas kepentingan partai politik. Sebuah pesan yang seharusnya menyejukkan, namun justru memicu reaksi keras dari Deddy Sitorus. "Jika seruan untuk mendahulukan kepentingan nasional di atas segalanya dianggap hasutan, jangan-jangan yang merasa terganggu bukan karena isinya salah, melainkan karena pesannya terlalu benar untuk dibantah," tegas Yan.

Demokrat bahkan menyangsikan kemampuan Deddy Sitorus dalam memahami substansi pernyataan AHY. Yan menduga, mungkin ada ketidakmampuan dalam mencerna gagasan yang disampaikan AHY. Ia mengaku mendengar langsung pernyataan AHY yang dimaksud, dan menegaskan bahwa isinya sangat gamblang.
AHY menjelaskan bahwa peran partai politik dalam koalisi pemerintah adalah mendukung serta menyukseskan program-program yang berjalan. Sementara itu, bagi partai di luar pemerintahan, tugasnya adalah menyampaikan kritik yang membangun, disertai solusi konkret. Ini adalah pilar utama demokrasi yang sehat, menurut AHY.
Lebih lanjut, AHY juga menekankan pentingnya menempatkan kepentingan nasional jauh di atas kepentingan golongan atau partisan. Ia bahkan mengingatkan agar tidak memecah belah bangsa, tidak menyudutkan seolah-olah semua salah, dan tetap membuka ruang evaluasi terhadap aspirasi masyarakat. "Sulit mencari diksi yang lebih moderat dan menenangkan dari itu, bukan?" tanya Yan.
Yan Harahap merasa heran mengapa Deddy menganggap pernyataan AHY sebagai sebuah hasutan, padahal intinya adalah ajakan untuk mengedepankan persatuan, menjaga keutuhan bangsa, dan membangun kritik yang konstruktif. Baginya, yang perlu dipertanyakan adalah cara Deddy menafsirkan pesan tersebut, bukan isi pesannya itu sendiri.
Sebelumnya, AHY menanggapi sikap PDIP yang dinilai ambigu. AHY menjelaskan bahwa sebagai oposisi, partai harus memberikan kritik yang membangun, bukan yang justru memicu perpecahan bangsa. "Ketika berada di posisi oposisi, tentu memiliki tujuan untuk memberikan pandangan, bahkan kritik, namun harus bersifat konstruktif, disertai solusi, tidak boleh memecah belah bangsa, dan tidak boleh mendiskreditkan seolah-olah semuanya keliru," papar AHY.
Deddy Sitorus kemudian mengaitkan pernyataan AHY dengan tudingan-tudingan yang kerap dialamatkan kepada PDIP. Ia menyebut sejak tahun 2025, PDIP selalu dituduh sebagai dalang di balik aksi demonstrasi. Tudingan serupa kembali muncul belakangan ini. Deddy menegaskan bahwa tudingan tersebut tidak pernah terbukti, karena tidak ada satu pun kader atau pihak terkait PDIP yang diproses hukum akibat kericuhan demo.
"Sekarang pun sama. Bahkan seorang pejabat sekelas AHY pun ikut berkomentar, jangan menghasut. Ini lagi-lagi membuktikan bahwa berada di luar pemerintahan memang selalu mudah menjadi sasaran tuduhan," keluh Deddy.

