zonamerahnews.com – Operasi pencarian tim ekspedisi jurnalis dan kru speedboat yang lenyap di perairan Selat Sunda memasuki babak baru. Basarnas bersama berbagai elemen di lapangan terus mengoptimalkan upaya menemukan delapan individu yang hilang saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Fokus pencarian terkini diarahkan ke sisi utara gunung berapi tersebut dengan mempertimbangkan dinamika arus laut gelombang dan arah angin yang terus berubah.
Insiden ini bermula ketika lima pewarta foto dan video dari berbagai media massa didampingi tiga kru kapal bertolak dari Dermaga Pagedongan Carita Pandeglang pada Senin 7 September sekitar pukul 14.00 WIB. Setelah sempat mengirimkan koordinat terakhir pada pukul 14.42 WIB komunikasi dengan rombongan tersebut terputus total sekitar pukul 15.04 WIB. Para jurnalis yang terlibat adalah M Bagus Khoirunnas dari ANTARA Ari Basuki dari Merdeka Yudhis dari iNews Daus dari Anadolu serta Donal seorang pewarta lepas.

Memasuki hari kedua pencarian tim SAR gabungan memperluas cakupan area operasi secara signifikan. Mereka membagi wilayah menjadi empat unit pencarian atau SRU. Setiap unit memiliki rute dan jarak penyisiran yang telah ditentukan secara cermat. Misalnya KN SAR Tetuka 247 menyisir area seluas 683 nautical mile sementara KAL Anyer menjelajahi 695 nautical mile. Dua Rigid Hulled Inflatable Boat RIB 01 Lampung dan RIB 02 Banten fokus pada area yang lebih spesifik termasuk sekitar Pulau Rakata dan Pulau Panjang yang dianggap krusial berdasarkan evaluasi awal.
Dukungan untuk operasi SAR ini datang dari berbagai pihak. Basarnas Lampung turut mengerahkan personelnya menyisir jalur dan pulau-pulau kecil menuju Anak Krakatau. Total area pencarian kini membentang hingga 271 nautical mile ke arah barat daya gunung. Polda Lampung juga tak ketinggalan menurunkan kapal patroli guna memperlebar jangkauan penyisiran di titik-titik strategis. Direktur Polisi Air dan Udara Polda Lampung Kombes Erick Sartani Marbun menegaskan perluasan area dilakukan dengan mempertimbangkan cuaca arus dan lokasi terakhir komunikasi.
TNI Angkatan Laut juga memberikan bantuan substansial dengan mengerahkan tiga kapal perang andalannya KRI Leuser 924 KRI Kerambit 627 dan KRI Lepu 861. Selain itu Pangkalan TNI AL Lanal Banten menyumbangkan Kapal Angkatan Laut KAL Anyer I.3-64 dan RHIB Peucang untuk penyisiran sektor perairan yang dicurigai. Lanal Lampung pun tak mau ketinggalan dengan KAL Siaga yang tak hanya mendukung pencarian namun juga memantau aktivitas vulkanik Anak Krakatau. Armada laut ini diharapkan mampu memperkuat dan mempercepat proses pencarian.
Di tengah intensitas pencarian Gunung Anak Krakatau justru kembali menunjukkan aktivitas erupsi. Material abu vulkanik tebal sempat menyembur saat SRU 1 menggunakan KN SAR Tetuka 247 sedang beroperasi pada Rabu pukul 13.31 WIB. Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad menekankan bahwa keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama. Pencarian akan terus disesuaikan dengan kondisi lapangan dan aktivitas gunung demi keamanan seluruh tim.
Sebuah petunjuk baru muncul dari Desi istri M Bagus Khoirunnas. Ia mengungkapkan suaminya sempat berencana singgah di Pulau Sertung yang terletak di sebelah barat Anak Krakatau. Desi berharap tim SAR dapat memfokuskan pencarian di area tersebut. Namun Al Amrad dari Basarnas menyatakan kehati-hatian. Lokasi yang dekat dengan zona erupsi membuat tim harus mempertimbangkan faktor keamanan secara serius.
Sementara itu upaya pencarian dari udara belum dapat dilakukan secara optimal. Gubernur Banten Andra Soni menjelaskan kondisi cuaca yang kurang mendukung serta angin kencang menjadi kendala utama. Meskipun demikian penggunaan drone telah dicoba. Andra Soni berjanji akan memaksimalkan seluruh potensi pencarian pada Kamis pagi ini.

