zonamerahnews.com – Selat Sunda kini diselimuti misteri mencekam setelah tujuh jurnalis yang tengah meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau mendadak raib tanpa jejak. Mereka hilang kontak sejak Senin sore, memicu operasi pencarian besar-besaran yang hingga kini belum membuahkan hasil. Tim SAR gabungan berpacu dengan waktu di tengah kondisi perairan yang menantang.
Rombongan pewarta ini diketahui berangkat dari Dermaga Pagedongan Carita pada Senin pukul 14.00 WIB menggunakan sebuah kapal cepat. Komunikasi terakhir tercatat pada pukul 14.42 WIB, saat mereka sempat mengirimkan lokasi terkini. Namun, sinyal mereka benar-benar putus pada pukul 15.04 WIB di titik koordinat 6°14’40.52"S dan 105°40’49.48"T.

Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad menegaskan, upaya pencarian akan dilanjutkan secara intensif pada Rabu pagi, dengan rencana perluasan area. Berbagai armada telah dikerahkan, termasuk KN SAR Tatuka dan Rigid Inflatable Boat (RIB) Banten, yang dilengkapi peralatan canggih untuk misi penyelamatan. Polairud Polda Banten juga turut serta dalam operasi ini.
Data sementara dari Basarnas menyebutkan tujuh individu yang dalam pencarian. Mereka adalah jurnalis foto LKBN ANTARA M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, Donal seorang pewarta lepas, serta dua individu lain yang masih dalam proses identifikasi.
Kapolda Banten Irjen Hengki menjelaskan, pencarian sempat dihentikan sementara menjelang malam karena kondisi cuaca ekstrem. Gelombang tinggi dan angin kencang menjadi hambatan serius bagi tim penyelamat. Operasi ini melibatkan Direktorat Polisi Perairan dan Udara Polda Banten, Korpolairud Baharkam Polri, Basarnas, TNI, serta tim terpadu penanggulangan bencana.
Direktur Polairud Polda Banten Kombes Pol Eko Hartanto menambahkan, kapal Basarnas berukuran 40 meter akan menjadi ujung tombak pencarian esok hari, mengingat kapabilitasnya di perairan berisiko. Sebelumnya, tim gabungan telah menyisir area sekitar delapan mil dari Pantai Carita. Namun, kondisi di lapangan sangat menantang, dengan jarak pandang hanya satu mil, gelombang tinggi, dan aktivitas erupsi gunung yang terus berlangsung, memaksa kapal kembali bersandar. Aparat bersama tim gabungan berkomitmen melanjutkan pencarian dengan mempertimbangkan keselamatan di lapangan.

