zonamerahnews.com – Warga Bandung Raya dibuat geger oleh serangkaian dentuman misterius yang menggema pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika BMKG Stasiun Bandung akhirnya angkat bicara mendefinisikan fenomena tak biasa ini sebagai ‘skyquake’ atau dentuman langit yang penyebab pastinya masih menjadi teka-teki.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi menjelaskan pihaknya telah melakukan pengecekan menyeluruh terhadap perangkat pemantauan geofisika dan meteorologi. Seluruh data mulai dari aktivitas kegempaan kondisi cuaca hingga anomali magnet bumi diperiksa secara seksama dalam rentang waktu kejadian yaitu pukul 23.00 WIB sampai 05.00 WIB.

Hasil pemantauan menunjukkan cuaca di Bandung Raya relatif cerah dan tidak tercatat adanya guncangan seismik lokal baik di Sesar Lembang Sesar Cimandiri maupun patahan aktif lainnya. "Berdasarkan data kegempaan BMKG tidak terdeteksi adanya aktivitas kegempaan di wilayah tersebut" ungkap Teguh Suadi dalam sebuah konferensi pers daring.
Teguh menambahkan kejadian serupa pernah terekam di Bogor pada April 2020 lalu. Biasanya dentuman di darat dapat disebabkan oleh gempa bumi kecil beruntun atau swarm earthquake seperti yang terjadi pada peristiwa gempa Cianjur tahun 2022. Namun instrumen seismik di kawasan Bandung Raya saat peristiwa ini berlangsung sama sekali tidak mencatat adanya gelombang kegempaan.
Temuan mengejutkan justru terungkap dari citra satelit Himawari dan stasiun magnet bumi di Serang serta Sukabumi. Pada rentang waktu yang dicurigai teridentifikasi adanya anomali medan magnet dan fenomena thunderstorm atau petir dengan konsentrasi tinggi di area Gunung Anak Krakatau yang saat itu tengah mengalami erupsi vulkanik.
Meski demikian hubungan antara dentuman di Bandung dengan aktivitas Anak Krakatau masih menjadi misteri besar bagi para ilmuwan. "Aktivitas vulkanik justru muncul di Krakatau tetapi tidak dilaporkan atau diperbincangkan oleh warga di Banten Jakarta maupun Bogor yang lokasinya lebih dekat. Fenomena dentuman ini justru hanya terjadi di wilayah Bandung dan sekitarnya" tutur Teguh. Secara nalar dan pertimbangan geografis letusan vulkanik Krakatau berskala normal terbilang sangat jauh untuk dapat terdengar hingga ke cekungan Bandung Raya tanpa melewati kawasan sekitarnya.
Guna mencari penjelasan ilmiah alternatif BMKG mengajukan sebuah dugaan ilmiah dari literatur yang menyebut bahwa skyquake dapat dipicu oleh emisi gas metana dari dasar cekungan Danau Purba mengingat wilayah Bandung Raya berdiri di atas eks-Danau Bandung Purba. Dugaan ini rencananya akan dikoordinasikan dan dikaji lebih lanjut bersama pihak Badan Geologi serta PVMBG.
BMKG mengimbau masyarakat di wilayah Bandung Raya agar tetap tenang tidak panik serta memilah informasi agar terhindar dari hoaks. BMKG memastikan terus melakukan pengawasan atmosfer dan kegempaan selama 24 jam nonstop. Seluruh perkembangan mengenai fenomena dan gejala alam disarankan untuk selalu mengikuti kanal-kanal komunikasi resmi BMKG.

