zonamerahnews.com – Kisah inspiratif datang dari Ika Safitri (27) dan suaminya, Harun, yang gigih membangun kembali mimpi setelah berbagai usaha mereka kandas. Pada tahun 2024, pasangan ini menemukan secercah harapan dengan menjual cireng isian, sebuah jajanan kampung yang mereka yakini memiliki potensi jangka panjang, jauh dari tren viral sesaat.
Ika dan Harun menawarkan beragam varian cireng, mulai dari ayam original, ayam pedas, daging cincang, sosis, hingga keju. Keputusan memilih cireng bukan tanpa alasan. Mereka percaya, cireng adalah makanan yang mampu beradaptasi dan diterima luas oleh lidah masyarakat Indonesia. Keyakinan inilah yang mendorong keduanya merintis usaha dengan modal awal Rp2 juta, setelah berburu resep dan teknik pembuatan adonan di berbagai grup media sosial.

Awalnya, mereka menjajakan cireng dengan mangkal di depan sekolah di Depok, Jawa Barat. Harun lebih sering di lokasi, sementara Ika mengurus anak mereka yang masih balita. Bagi Ika, seorang ibu rumah tangga, dan Harun, korban pemutusan hubungan kerja, berjualan cireng adalah cara mereka bertahan hidup. Ikhtiar ini membuahkan hasil. Cireng seharga Rp1.000 per buah itu laris manis di kalangan anak sekolah dan warga sekitar. Penjualan mereka melonjak dari 200 buah menjadi 500 buah per hari.
Ika menekankan pentingnya kualitas dan konsistensi. Ia tak pernah absen berjualan, bahkan harus bangun dini hari menyiapkan bahan baku. "Kalau hari ini kita jualan, besok enggak, nanti orang malah, ih gimana sih, kok udah tutup aja gitu, ih kok enggak buka gitu," ujarnya. Usaha mereka semakin berkembang ketika pedagang kantin sekolah tertarik menjadi reseller, meningkatkan produksi dan omzet harian hingga sekitar Rp400 ribu.
Menjelajah Pasar Digital
Semangat Ika dan Harun tak berhenti di situ. Mereka menyadari potensi besar di era digital. Sejak pertengahan tahun lalu, Ika memberanikan diri membuka toko daring di salah satu marketplace terbesar, Shopee, meski sadar persaingan ketat. Ia belajar banyak dari kakak dan rekan-rekannya yang lebih dulu terjun ke dunia daring.
Awalnya, Ika menghadapi tantangan dalam visual produk dan pengemasan. Beberapa kali cireng kirimannya basi. Setelah berbagai percobaan, mereka menemukan solusi: menggoreng cireng setengah matang dan mengemasnya secara vakum. Metode ini terbukti ampuh, bahkan memungkinkan pengiriman ke luar Pulau Jawa, meski Ika masih membatasi jangkauan pengiriman untuk menjaga kualitas.
Tak disangka, toko daring "Cireng Asik" miliknya ramai pembeli setiap hari. Omzet harian dari penjualan daring kini mencapai Rp700 ribu hingga Rp800 ribu, bahkan melampaui pendapatan dari kantin sekolah. "Kalau sekarang, udah banyakan online sih. Kayak, mungkin online 60 persen, sekolah 40 persen lah," ungkap Ika. Keberhasilan ini tak hanya membawa senyum bagi keluarga kecilnya, tetapi juga memungkinkan Ika menyisihkan rezeki untuk orang tua dan mempekerjakan saudara. Berjualan daring juga memberinya lebih banyak waktu bersama sang anak.
Kisah Ketekunan Dinda dengan Gelang Temali
Cerita serupa datang dari Dinda (25), yang mengubah hobinya mengoleksi gelang handmade menjadi bisnis menjanjikan. Terinspirasi gelang Bali yang kaya akan nilai seni, Dinda memutuskan memproduksi sendiri gelang temali dengan benang dan pernak-pernik. Ia belajar secara otodidak melalui Pinterest dan YouTube, mengembangkan material dan teknik pembuatan.
Sejak usia 18 tahun, sekitar tahun 2019, Dinda langsung membuka lapak daring di Shopee. Ia merasa marketplace sangat membantu karena proses pendaftaran yang mudah, komunikasi virtual yang efektif, dan jangkauan pasar yang luas. Produk "Temali" kini telah terjual ke berbagai pulau di Indonesia, dari Jawa hingga Maluku, dengan harga antara Rp45.000 hingga Rp155.000.
Meski menghadapi persaingan harga murah, Dinda yakin produknya memiliki nilai seni dan keahlian yang tak tertandingi. Ia menggunakan bahan impor dan menciptakan model yang hanya bisa dibuat dengan tangan, seperti hand stitching dan braided bracelet. Untuk memberikan pengalaman langsung kepada pelanggan, Dinda juga mulai mengikuti bazar pop-up market, melengkapi penjualan daringnya yang fokus pada visual natural dan deskripsi rinci. Baginya, penjualan daring dan luring harus berjalan beriringan untuk menjangkau pasar lebih luas dan membangun brand awareness.
Dukungan Ekosistem Digital dan Pemerintah
Kisah Ika dan Dinda adalah cerminan geliat ekonomi digital di Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat, pada tahun 2024, terdapat 4,40 juta usaha e-commerce, 97,38 persen di antaranya adalah usaha mikro. Nilai transaksi e-commerce mencapai Rp1.288,93 triliun, dengan marketplace menjadi kanal utama bagi 17,23 persen usaha.
Shopee, sebagai pemain dominan dengan 54 persen pangsa pasar GMV e-commerce Indonesia, aktif mendukung produk lokal melalui Program Akselerasi Produk Lokal bersama Kementerian Perdagangan. Program ini mencakup voucher, kelas daring, program ekspor, layanan terkelola, inovasi fitur, dan perlindungan merek. Hasilnya, 4 miliar produk lokal terjual dan penjual merasakan peningkatan pendapatan hingga 40 persen.
Tak ketinggalan, Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga berupaya memfasilitasi digitalisasi. Peraturan Menteri UMKM Nomor 3 Tahun 2026 akan mewajibkan penyelenggara e-commerce non-UMKM memberikan diskon biaya layanan minimal 50 persen kepada UMK terverifikasi yang menjual produk dalam negeri. Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyebut progres aturan ini sudah 95 persen, tinggal menunggu integrasi teknis dengan sistem Sapa UMKM.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengakui digitalisasi membuka peluang besar bagi UMKM. Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan omzet belum tentu berarti peningkatan margin atau "naik kelas" secara otomatis. Mayoritas UMKM di Indonesia masih tergolong mikro, lebih banyak berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja daripada produktivitas tinggi.
Yusuf menekankan pentingnya peran pemerintah untuk memastikan teknologi membantu UMKM tumbuh lebih produktif. Dukungan harus bergeser dari sekadar onboarding digital menuju penguatan kapasitas usaha. Pelatihan perlu diperkaya dengan materi manajemen stok, pengelolaan margin, standardisasi produk, pembiayaan, dan akses pasar. Pemanfaatan histori transaksi digital sebagai dasar penilaian kredit juga menjadi kunci. Dengan demikian, marketplace dapat menjadi infrastruktur yang benar-benar mendorong pertumbuhan pelaku usaha kecil dan menengah di Indonesia.

