zonamerahnews.com – Kemarahan besar menyelimuti institusi kepolisian setelah seorang anggota terbaiknya gugur dalam tugas. Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Listyo Sigit Prabowo tanpa kompromi menginstruksikan seluruh jajarannya untuk melancarkan tindakan tegas dan terukur terhadap para bandar serta gembong narkoba. Perintah ini dikeluarkan menyusul insiden tragis yang menimpa Aipda Yudhie Perdana Putra, personel Satresnarkoba Polres Katingan, yang tewas saat berupaya meringkus pengedar narkotika di Desa Tumbang Kalemei, Katingan Tengah, Kalimantan Tengah.
Kapolri menegaskan bahwa tidak akan ada toleransi bagi siapa pun yang berani melawan upaya penegakan hukum, apalagi sampai membahayakan nyawa petugas atau masyarakat. "Mereka adalah perusak generasi bangsa yang harus dibasmi tuntas," ujar Jenderal Sigit. Penindakan keras ini, lanjutnya, adalah upaya mutlak untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia dari ancaman laten narkotika yang bisa menghancurkan masa depan. Terlebih, Indonesia sedang bersiap menghadapi bonus demografi, sehingga menjaga generasi muda dari bahaya narkoba menjadi prioritas utama.

Peristiwa memilukan itu terjadi pada Rabu malam. Tim Satresnarkoba Polres Katingan menindaklanjuti informasi krusial dari masyarakat mengenai dugaan peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei. Penyelidikan mendalam mengarah pada seorang target operasi berinisial BIO, yang ternyata merupakan residivis kasus narkotika. Sebanyak dua belas personel diterjunkan dalam operasi senyap tersebut.
Setibanya di lokasi, tim dibagi menjadi dua kelompok strategis. Satu tim bergerak melakukan penindakan langsung di rumah target, sementara tim kedua bersiaga sebagai unsur pendukung. Awalnya, target berhasil diamankan. Namun, situasi mendadak berubah mencekam. Beberapa orang di dalam rumah dan warga sekitar tiba-tiba melakukan perlawanan brutal menggunakan senjata tajam berupa parang.
Kondisi semakin tak terkendali saat massa terus bertambah dan melancarkan serangan membabi buta dengan senjata tajam serta senjata api rakitan. Dalam kepungan yang mematikan, personel kepolisian berupaya keras menyelamatkan diri sambil meminta bantuan tambahan. Beberapa anggota terpaksa nekat berenang menyeberangi sungai dan berlindung di dalam hutan belantara demi menghindari amukan massa yang beringas.
Nahas, dalam insiden berdarah tersebut, Aipda Yudhie ditemukan tak bernyawa dengan luka-luka akibat senjata tajam yang parah. Sementara itu, Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana hingga kini masih dalam pencarian intensif oleh tim gabungan. Tragedi ini menjadi pengingat pahit akan bahaya dan pengorbanan para penegak hukum dalam memerangi kejahatan narkotika.

