Bukan Sekadar Jalan-Jalan! Seskab Bongkar Fakta Kunker Prabowo
Jakarta – Gelombang kritik terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden RI Prabowo Subianto sejak menjabat menjadi sorotan tajam publik. Menanggapi hal ini, Sekretaris Kabinet Letkol TNI Teddy Indra Wijaya tak tinggal diam. Melalui unggahan video di akun media sosial Sekretariat Presiden, Teddy membeberkan sejumlah fakta dan hasil konkret dari diplomasi yang dipimpin Prabowo, sekaligus merespons masukan dari mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal.

Kritik yang dilontarkan Dino Patti Djalal, seorang diplomat senior, menyoroti frekuensi lawatan Prabowo ke luar negeri yang dinilai sangat tinggi, bahkan disebut-sebut sebagai kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan internasional. Dino mencatat, hampir satu dari enam hari masa kepemimpinannya dihabiskan di luar negeri. Kunjungan mendadak ke Prancis baru-baru ini, setelah sebelumnya juga ke sana pada April dan Januari, menjadi salah satu pemicu kritik tersebut. Dino juga menyoroti besarnya biaya yang dikeluarkan negara untuk setiap perjalanan, yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah, serta mengimbau agar Prabowo lebih mengandalkan diplomasi virtual. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan pandangan ini, mengingat penghargaan Bintang Mahaputera yang pernah dianugerahkan kepadanya.
Menanggapi pandangan tersebut, Teddy Indra Wijaya, yang pernyataannya ditandai dengan inisial TIW, mengakui pentingnya kritik dan masukan. "Bicara diplomasi berarti bicara hasil. Manfaat nyata bagi bangsa," demikian narasi yang menyertai unggahan video tersebut. Ia menegaskan bahwa ruang untuk kritik selalu terbuka, namun ia juga mengingatkan agar tidak mengaburkan fakta dari mereka yang tengah berjuang membawa kepentingan bangsa di panggung dunia.
Meski mengakui Dino sebagai "diplomat hebat" yang pernah menjabat Wakil Menteri Luar Negeri, Teddy juga secara halus menyinggung masa jabatan Dino yang relatif singkat, yakni sekitar tiga bulan. Dalam responsnya, Teddy menguraikan empat poin utama yang menjadi fokus kritik, sekaligus memaparkan hasil-hasil konkret dari diplomasi Prabowo dalam kurun waktu 1,5 tahun terakhir.
Membantah Tuduhan Biaya dan Rombongan Besar
Poin pertama yang dijawab Teddy adalah mengenai biaya perjalanan luar negeri. Ia menegaskan bahwa segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara sepenuhnya ditanggung secara pribadi oleh Presiden Prabowo. Ini merupakan klarifikasi penting yang sebelumnya telah beberapa kali disampaikan.
Selain itu, Teddy juga membantah tudingan rombongan besar dalam setiap kunjungan. Ia mengklaim bahwa jumlah orang dalam rombongan kunjungan luar negeri Prabowo telah berkurang drastis, hampir 50 persen, dibandingkan periode pemerintahan sebelumnya. "Kalau dulu itu sekali keluar negeri bisa lebih dari 120 orang—zaman Pak Dino seperti itu. Nah, zaman Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal," tegas Teddy, menunjukkan efisiensi yang diterapkan.
Diplomasi Proaktif di Tengah Dunia Bergejolak
Mengenai frekuensi dan penjadwalan kunjungan, Teddy menjelaskan bahwa Prabowo menjadi presiden di tengah kondisi dunia yang sangat dinamis dan penuh konflik global. Oleh karena itu, membangun dan menjalin hubungan baik dengan para pemimpin dunia secara proaktif adalah sebuah keharusan.
"Kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak. Kita harus panen hubungan yang baik. Lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya," kata Teddy. Ia menekankan pentingnya kedekatan pribadi dan emosional antar pemimpin, baik melalui pertemuan langsung yang diliput media maupun pertemuan tertutup, untuk membangun kepercayaan dan kerja sama yang solid. Tuduhan bahwa kunjungan luar negeri Prabowo hanya demi gagah-gagahan atau seremonial, menurut Teddy, adalah tudingan yang "salah besar."
Capaian Nyata Diplomasi 1,5 Tahun Terakhir
Teddy kemudian memaparkan serangkaian hasil konkret yang diklaim sebagai buah dari diplomasi yang dipimpin Prabowo selama 1,5 tahun terakhir:
- Kerja Sama BRICS: Kelanjutan kerja sama dalam BRICS yang disebut telah berkontribusi menjaga stabilitas pasokan BBM dan stok pangan di tengah gejolak konflik global.
- Tarif 0% Uni Eropa: Pencapaian tarif 0 persen dari Uni Eropa yang baru terwujud di era kepresidenan Prabowo pada tahun 2025, menandakan peningkatan daya saing produk Indonesia.
- Investasi Masuk: Total investasi yang masuk dalam 1,5 tahun ini mencapai sekitar Rp2.430 triliun, berdasarkan data dari BKPM. Lebih lanjut, kunjungan Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea bulan lalu langsung membuahkan investasi sekitar Rp575 triliun.
- Kekuatan Alutsista: Peningkatan kekuatan tempur atau alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia.
- Penyelenggaraan Haji: Terwujudnya perkampungan haji RI di Tanah Suci, serta peningkatan kualitas penyelenggaraan ibadah haji.
- Peran Aktif Palestina: Peran aktif Indonesia dalam membantu Palestina di kancah internasional.
"Itu adalah hasil konkret nyata 1,5 tahun terakhir. Dan, semua itu adalah hasil diplomasi yang dilakukan Presiden Prabowo lewat berbagai cara, baik dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan," pungkas Teddy. Pernyataan ini menegaskan bahwa di balik setiap perjalanan, ada tujuan strategis dan hasil nyata yang diperjuangkan demi kepentingan bangsa dan negara.
(Laporan oleh tim redaksi zonamerahnews.com)

