zonamerahnews.com – Isu panas mengenai rencana pemanfaatan lahan bekas kebakaran hutan untuk program biodiesel B50 akhirnya menemui titik terang. Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, secara tegas menepis segala spekulasi yang menyebutkan bahwa kebakaran hutan tahun 2026 akan sengaja digunakan sebagai lahan perkebunan sawit demi kebutuhan energi nasional.
Hashim memberikan klarifikasi mendalam untuk meluruskan kesalahpahaman publik yang sempat ramai diperbincangkan. Ia menegaskan bahwa data mengenai 12,7 juta hektare lahan terdegradasi yang sempat ia sebutkan sebelumnya bukanlah lahan yang baru akan dibakar, melainkan data kerusakan hutan dari tahun-tahun sebelumnya yang ia peroleh dari Kementerian Kehutanan.

Menariknya, pemerintah ternyata memiliki rencana besar untuk mengoptimalkan lahan semak belukar milik negara tersebut. Namun, tidak semua lahan akan diubah menjadi perkebunan. Dari total luas lahan yang ada, hanya sekitar 2 juta hektare yang diproyeksikan untuk ditanami komoditas pendukung energi seperti tebu, singkong, hingga sawit. Sisanya, yakni sekitar 12 juta hektare, akan difokuskan sepenuhnya untuk upaya reboisasi atau penghijauan kembali.
Proses penentuan lokasi penanaman pun tidak dilakukan secara sembarangan. Pemerintah akan menggunakan teknologi mutakhir seperti satelit dan drone untuk memetakan topografi lahan agar tanaman yang dipilih benar-benar sesuai dengan kondisi tanah.
Di sisi lain, Hashim juga memberikan respons keras terhadap tudingan keterlibatan pribadinya dalam bisnis sawit. Ia menyebut isu tersebut sebagai fitnah belaka karena dirinya telah resmi meninggalkan industri kelapa sawit sejak delapan tahun yang lalu. Saat ini, fokus bisnisnya telah beralih sepenuhnya ke sektor pertambangan dan minyak bumi.

