zonamerahnews.com – Laporan terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap fakta mengejutkan: ratusan hektare lahan di enam provinsi Indonesia masih dilalap api akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga 28 September, total area yang hangus mencapai 527,6 hektare. Meski sebagian besar, yakni 431,53 hektare, berhasil dipadamkan, namun 96,07 hektare sisanya masih terus berkobar, menjadi tantangan serius bagi tim penanggulangan bencana.
Plt Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan, angka lahan yang belum padam ini sejatinya menunjukkan penurunan signifikan sebesar 62,29 hektare dibandingkan sehari sebelumnya. Kalimantan Tengah memimpin dalam upaya pemadaman dengan pengurangan 46,70 hektare, diikuti Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Namun, kewaspadaan harus ditingkatkan di Sumatera Selatan dan Riau, di mana luas lahan yang terbakar justru mengalami peningkatan.

Untuk memerangi amukan si jago merah, BNPB mengerahkan ribuan personel Satuan Tugas (Satgas) darat di enam provinsi prioritas. Dengan kekuatan mencapai puluhan ribu personel, seperti 14.837 di Riau dan 14.575 di Kalimantan Barat, mereka dilengkapi berbagai alat canggih mulai dari pompa pemadam, mobil tangki, hingga drone. Misi utama mereka adalah memadamkan api secara langsung, membuat sekat bakar, serta melakukan pembasahan dan pendinginan, terutama pada lahan gambut yang rentan menyimpan bara di bawah permukaan.
Dukungan dari udara juga tak kalah vital. Sebanyak 56 unit armada udara dikerahkan, terdiri dari pesawat patroli, pesawat modifikasi cuaca (OMC), dan helikopter water bombing. Operasi udara ini berperan krusial dalam memantau titik api dari ketinggian, memicu hujan buatan, serta menjatuhkan ribuan liter air untuk memadamkan kobaran api yang sulit dijangkau dari darat.
Namun, perjuangan melawan karhutla tidaklah mudah. Di Kalimantan, tim pemadam menghadapi rintangan berat seperti kebakaran di lahan gambut yang sulit dipadamkan, keterbatasan akses dan sumber air, serta hembusan angin kencang yang mempercepat penyebaran api. Kabut asap tebal juga menjadi momok, mengurangi jarak pandang dan menghambat operasi udara seperti patroli dan water bombing.
Menyikapi tantangan ini, berbagai strategi inovatif diterapkan. Tim terus melakukan pemadaman intensif, membuat sekat, serta mendinginkan lahan gambut. Penempatan tangki air portabel, optimalisasi pompa, dan pemanfaatan sumber air alternatif menjadi kunci. Bahkan, drone termal dan injeksi air atau surfaktan digunakan untuk mendeteksi serta memadamkan api yang tersembunyi di bawah permukaan tanah. Operasi water bombing hanya akan dilakukan setelah kondisi jarak pandang dinyatakan aman.
Situasi serupa namun dengan karakteristik berbeda juga terjadi di Sumatera. Lahan kering dan gambut yang mudah terbakar, minimnya sumber air, sulitnya menjangkau titik api utama, serta perubahan arah angin yang tak terduga menjadi kendala utama. Kesiapan sebagian armada water bombing juga menjadi perhatian.
Untuk mengatasi ini, langkah-langkah proaktif diambil, termasuk pembangunan embung dan kanal penampungan air, pembuatan sekat bakar, serta pembukaan akses menuju titik api. Armada water bombing pun dioptimalkan dan direposisi berdasarkan skala prioritas. Sementara itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menghadapi tantangan tersendiri, yaitu pertumbuhan awan potensial yang belum merata dan rendahnya kandungan uap air. Oleh karena itu, pemantauan awan terus dilakukan secara berkelanjutan bersama BMKG.
Dampak karhutla tak hanya pada lingkungan, tetapi juga merambah ke kehidupan masyarakat. Kabut asap yang ditimbulkan menyebabkan penurunan kualitas udara, gangguan jarak pandang, peningkatan risiko kesehatan, hingga penyesuaian kegiatan pendidikan. BNPB dan pihak terkait merespons dengan memantau kualitas udara, membagikan masker, meningkatkan kesiapsiagaan layanan kesehatan, dan menerapkan pembelajaran jarak jauh sesuai kondisi wilayah.
Sinergi antara BNPB, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan seluruh elemen terkait terus diperkuat. Koordinasi ini bertujuan untuk mengoptimalkan seluruh sumber daya darat dan udara, mempercepat pemadaman, mencegah meluasnya kebakaran, serta meminimalkan dampak buruk asap terhadap kesehatan dan aktivitas sehari-hari warga.

