zonamerahnews.com – Di jantung Kuningan Barat Jakarta Selatan sebuah pemandangan mengerikan menjulang angkuh tiang-tiang dipenuhi ratusan kabel tebal bak jaring laba-laba raksasa. Pemandangan ini bukan sekadar gangguan visual namun ancaman nyata bagi pengguna jalan. Ira pemilik toko material di sana tak henti mengeluh. Halaman tokonya kerap jadi saksi bisu kecelakaan. Pengendara motor tergelincir kunci patah bahkan orang terguling terutama saat hujan deras. Kabel-kabel yang seharusnya tertanam malah muncul ke permukaan dituding akibat galian tak bertanggung jawab. Ira tak habis akal sudah lima tahun kondisi ini tanpa solusi berarti.
Tak jauh berbeda Sri pedagang material lain juga merasakan dampak serupa. Ia mengaku tak pernah dimintai izin atas keberadaan kabel-kabel liar yang tiba-tiba muncul di depan tokonya. Fenomena kabel "ular raksasa" ini tak berhenti di satu titik. Memanjang hingga 60 meter melintasi kompleks tiga sekolah Islam Raudhatul Athfal Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah. Komar satpam sekolah bersaksi banyak pengendara motor tergelincir bahkan ia sendiri pernah menjadi korban. Ia menyoroti penataan kabel yang sembarangan tanpa pengamanan memadai. Bahkan pihak sekolah terpaksa mengeluarkan dana pribadi untuk menutupi kabel di gerbang akses keluar masuk saking putus asanya menanti perbaikan.

Lantas kabel apakah gerangan yang menjadi biang kerok kekacauan ini? Rudi seorang teknisi kabel menjelaskan bahwa tumpukan kabel tebal itu adalah jaringan fiber optik. Ini bukan sembarang kabel melainkan pusat data jaringan internet seluruh Indonesia. Seluruh koneksi internet dari Sabang sampai Merauke berpusat di sini sebelum disalurkan ke Jabodetabek lalu menyebar ke penjuru negeri. Rudi menegaskan penanganan kabel ini bukan perkara mudah. Tidak bisa asal potong atau langsung ditanam. Butuh jalur sementara dan proses bertahap sebab dampaknya bisa meluas ke banyak klien besar perusahaan kantor sekolah hingga rumah tangga. Izin dari berbagai pihak pun mutlak diperlukan.
Misteri asal muasal kabel semrawut ini mulai terkuak dari pengakuan Yuliana pedagang es teh yang berjualan enam tahun di sana. Ia menduga kesemrawutan ini kian parah sejak berdirinya Perusahaan E pada tahun 2019. Perusahaan ini dan sejenisnya seperti Gedung NTT serta Cyber 4 yang disebut Ketua RW 03 Sariman merupakan "pelabuhan raksasa" penyimpanan jutaan data. Kabel fiber optik inilah jembatan penghubung data-data tersebut ke pengguna internet. Yuliana sempat mendengar janji perbaikan akan dilakukan sejak Januari 2026 namun hingga kini belum terealisasi.
Meski ada laporan warga yang ditindaklanjuti kelurahan namun solusi jangka panjang masih jauh panggang dari api. Janji penataan kabel bawah tanah agar Kuningan Barat mirip SCBD masih sebatas wacana. Sementara itu bahaya kabel-kabel liar ini terus mengintai setiap hari. Warga dan pengguna jalan menanti kapan pemerintah dan pihak terkait benar-benar serius menuntaskan ancaman tak kasat mata yang sudah bertahun-tahun meresahkan ini.

