zonamerahnews.com – Sebuah temuan jasad tanpa identitas di perairan Desa Lubuk Sanai Kecamatan Koto Jaya Kabupaten Mukomuko Bengkulu sempat memicu spekulasi publik. Namun Kepolisian Resor Mukomuko dengan cepat menepis dugaan bahwa jenazah tersebut merupakan bagian dari rombongan awak media yang sebelumnya dikabarkan hilang di Selat Sunda.
Jasad yang terdampar itu pertama kali ditemukan oleh warga setempat pada Kamis pagi sekitar pukul 08.20 WIB. Penemuan ini segera dilaporkan kepada pihak berwajib untuk penanganan lebih lanjut. Kepala Kepolisian Resor Mukomuko AKBP Riky Crisma Wardana menegaskan bahwa korban adalah penduduk lokal Kabupaten Mukomuko. "Sudah dipastikan karena pihak keluarga telah mengonfirmasi identitasnya," ujar Riky.

Setelah dievakuasi, jenazah dibawa ke Rumah Sakit Mukomuko untuk proses identifikasi mendalam. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa jasad tersebut adalah Endar Permana seorang pelajar berusia 16 tahun yang berasal dari Desa Ranah Karya Kecamatan Lubuk Pinang Kabupaten Mukomuko. Meski demikian penyebab pasti meninggalnya Endar masih dalam tahap penyelidikan intensif oleh aparat kepolisian.
Kasus ini muncul di tengah perhatian publik terhadap insiden lain yang melibatkan penemuan jenazah di wilayah Bengkulu. Sebelumnya Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Basarnas Bengkulu juga menerima laporan mengenai penemuan jasad tak dikenal di area pesisir Sawang Bengkok Desa Khayapu Pulau Enggano Kabupaten Bengkulu Utara pada Sabtu 12 September.
Jenazah dari Pulau Enggano kemudian dipindahkan menggunakan pesawat Susi Air dari Bandara Enggano menuju Bandara Fatmawati Soekarno pada Senin 14 September pukul 07.58 WIB. Proses evakuasi ini turut didampingi oleh dua petugas kepolisian untuk menjalani autopsi guna memastikan identitas serta faktor penyebab kematiannya.
Berdasarkan keterangan dari Polda Banten hasil pencocokan DNA dengan sampel antemortem mengonfirmasi bahwa jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano memiliki kecocokan identik dengan Surakman atau Sukarman yang berusia 60 tahun. Surakman diketahui merupakan salah satu awak kapal cepat KM Arupadatu I yang membawa rombongan jurnalis dan dilaporkan putus komunikasi di perairan Selat Sunda Pandeglang pada Senin 7 September. Dengan demikian kepolisian memastikan kedua kasus penemuan jenazah ini adalah peristiwa terpisah.

